Sekuntum Bunga Edelweiss

Sudah tiga hari aku berada disini. Diketinggian 2.100 meter diatas permukaan laut  ini aku bisa melihat hamparan perbukitan yang  hijau membentang dari atas Gunung Sesean. Awan tipis berarak perlahan nun jauh diatas sana. Desau angin pagi  terasa dingin menusuk sampai sum-sum tulang. Inilah keindahan alam yang selalu membuatku rindu untuk melakukan perjalanan ini kendati menguras tenaga yang tidak sedikit. Aku  harus rutin berolahraga dan menjaga kebugaran tubuh demi menaklukkan medan sebuah pendakian. Dan disinilah untuk yang kesekian kalinya aku menjejakkan kaki. Banyak yang bertanya mengapa aku suka naik gunung ? Sungguh aku tak pernah bisa menjawabnya.Di puncak gunung aku hanya bisa merasakan ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan yang takkan bisa kuungkapkan dalam kata. Jadi kurasa setiap orang harus berada disini untuk menemukan jawabannya. Bagiku, aku tidak hanya sedang menaklukkan alam. Aku juga merasa sedang menaklukkan diriku sendiri, melawan ego dalam diriku sebagai seorang remaja yang sedang bertumbuh, berpetualang mencari jati dirinya.

Seperti saat ini ketika untuk yang kesekian kalinya aku melarikan diri mencari kedamaian ditempat ini. Aku terlahir dalam sebuah keluarga sederhana, sebagai anak ke-2 dari tiga bersaudara. Setiap pagi setelah berkumpul untuk sarapan bersama, mama dan papa akan segera bergegas ke kantor dan kami semua juga segera berangkat sekolah.Disore hari bahkan terkadang malam hari,barulah kami bisa berkumpul kembali. Pulang dari kantor, mama dan papa masih aktif terlibat dalamkegiatan-kegiatan sosial. Aku dan saudara-saudaraku jugamenyibukkan diri dalam dunia kami sendiri. Tentu saja dengan kesibukan yang padat maka praktis mama dan papa kehilangan kontrol atas kehidupan anak-anaknya. Kami semua bertumbuh tanpa kasih sayang yang cukup dan menjalani kehidupan masing-masing sesuai keinginan kami sendiri. Mama dan papa tidak pernah mengajak kami berdiskusi untuk menetapkan goal dalam hidup. Kami pun cenderung berjalan tanpa arah. Namun, berbeda dengankakak dan adikku, aku tetap berjuang untuk menjadi yang terbaik.

Disekolah aku selalu menorehkan prestasi akademik dan non akademik yang membuatku menjadi murid kesayangan para guru. Tentu saja aku juga punya banyak teman. Tak sekalipun aku melepaskan peringkat I dikelas sejak duduk dibangku pendidikan sekolah dasar hingga sekolah menengah atas yang masih kujalani hingga saat ini. Aku juga aktif dalam kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler dan juga menorehkan banyak prestasi dalam lomba nyanyi solo, baca puisi, pidato dan seni drama. Aku  mulai belajar  menulisdiusia yang masih belia. Dengan segudang aktivitas itu, aku juga masih aktif dalam latihan ilmu beladiri pencak silat di kotaku. Hingga disuatu sore mama mendatangiku saat sedang belajar , “Mama dan Papa ingin kamu melanjutkan sekolah di SMU Negeri II. Kami berharap kelak dengan prestasimu kamu bisa mendaftarkan diri dan bebas tes masuk di Perguruan Tinggi Negeri yang kamu inginkan”, kata mama dengan suara datar. “Tidak, aku gak mau ma. Aku pengen sekolah disekolah swasta walaupun harus ikut seleksi nantinya untuk masuk di Perguruan Tinggi Negeri. Aku janji tidak akan mengecewakan mama dan papa”,kataku dengan penuh percaya diri. Dan seperti biasa mama hanya memandangku dengan sorot mata yang sulit kuartikan. Apakah mama mempercayaiku ataukah mama terlalu lelah untuk berdebat denganku seperti biasa ? Aku tidak pernah tahu. Mama terdiam dan segera bergegas meninggalkanku tanpasebuah penjelasan. Selalu dan selalu, ini yang terjadi. Mama akan segera menyibukkan diri dengan pekerjaannya dan membiarkan aku memilih dan melakukan apapun yang kuinginkan. Aku merasa mama dan papa tak pernah bisa memahamiku. Jika aku berjuang keras menjadi yang terbaik, semua itu kulakukan hanya untuk mendapatkan pengakuan dan perhatian dari mama dan papa. Lihatlah, di luar sana banyak orang yang mengucapkan selamat untuk seluruh pencapaianku.

Kenyataan ini benar-benar membuatku sedih dan putus asa. Jujur aku benci terlahir seperti ini. Ketika ingin bermain dan menikmati hidupku seperti remaja tanggung lainnya, aku malah terpuruk dalam kehidupan yang tidak kuinginkan. Lalu masa pemberontakan itu pun tiba. Keinginanku untuk melanjutkan pendidikan di sekolah menengah swasta memang tercapai tetapi aku mulai bertingkah diluar batas. Aku mulai membolos. Terkadang aku pamit ke sekolah dengan mengenakan seragam tetapi hanya sampai di gerbang sekolah. Selebihnya, aku akan berputar mengelilingi kota lalu pulang kerumah untuk berpura-pura sakit perut. Sekali waktu aku pernah memanjat pagar sekolah dan menyusup ke kelas karena terlambat. Bagaimanapun saat itu aku adalah ketua kelas yang tak mungkin membolos setiap minggu, bukan ?.. Hahahaaaa, tak mengapa , bukankah yang terpenting adalah peringkat pertama?, What else ??. Tunggu, kalian pasti berpikir aku sedang tertawa sekarang bukan ?Tidak, aku sedang menangis dalam kesendirian. Bahkan beberapa menit yang lalu, aku berteriak sekeras-kerasnya agar seluruh alam bisa mendengar ratapan kepedihan hatiku.

Aku takkan memungkiri semuanya, bahwa seluruh pencapaian itu tak pernah membuatku bahagia. Dan sekarang, aku benar-benar tenggelam dalam kesedihan. Lelah menangis, aku pun segera bangkit dan hendak menjangkau kerilku. Saat itulah mataku tertumbuk pada kumpulan Edelweiss yang tumbuh liar pada tebing curam di depanku. Bunganya kini telah mekar, elok dipandang. Dan tiba-tiba saja, aku merasakan sensasi kehangatan. Benar adanya, bahwa sekuntum Edelweiss adalah simbol cinta yang abadi, bunga yang takkan pernah layu. Bunga yang akan selalu menghadirkan kehangatan dan kedamaian bagi siapapun yang memandangnya. Terimakasih Tuhan karena lewat alam pun Engkau selalu hadir dan menyapaku, mengisi kekosongan dalam jiwaku. Aku hanya perlu mengasah ketajaman inderaku.

Perjalanan ini sungguh melelahkan. Seseorang pernah berkata padaku bahwa hidup adalah tentang proses dan pembelajaran. Aku berharap suatu saat nanti aku bisa menemukan mama dan papa yang selalu ada disisiku, memberikan penghargaan saat aku menuaikeberhasilan dan memelukku saat jatuh dalam kegagalan dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Pada akhirnya, aku memilih untuk mempercayai dan menunggu mereka. Aku takkan pernah melarikan diri lagi dan bersembunyi dalam duniaku. Kuhapus air mataku lalu bergegas  pulang dengan sebuah harapan. Sungguh aku siap melanjutkan kembali kehidupanku yang penuh dengan warna.

Deana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.