Assalamu’alaikum. Saya ingin meminta saran dan solusi atas masalah yang saya hadapi.
Semuanya berawal dari keaktifan Ibu saya di sosial media. Ibu berkenalan dengan seorang laki-laki yang “gencar” sekali menjalin komunikasi dengan ibu. Pernah suatu kali saya cek HP ibu, orang itu intens sekali menghubungi ibu. Ketika itu, ibu tidak terlalu merespons chat dari orang itu.
Tiga bulan terakhir, Ibu mulai bersikap aneh. Biasanya Ibu menaruh HP sembarangan. Sekarang ibu mulai menyembunyikan HP. Selain itu, biasanya Ibu tidur selamat dengan adik yang paling bungsu, tapi sekarang ibu memilih tidur sendiri di kamar belakang yang direnovasi secepatnya oleh ibu seiring keanehan ibu yang mulai terlihat. O iya, saya mempunyai dua orang adik, saya dan adik tengah sudah bekerja, sedangkan si bungsu masih kuliah dan kamu bertiga tinggal di luar kota. Jadi kami pulang ke rumah sekali sebulan.
Keganjilan selanjutnya adalah ketika saya pulang ke rumah, saya mendapati ibu menelepon sembunyi-sembunyi sembari berbisik-bisik. Lalu saya tanya kepada adik siapa yang telponan dengan ibu. Adik saya mengadu kalau ibu sering telponan dengan teman Fb ibu yang sering chat dengan ibu. Yang lebih membuat saya shock adalah adik saya pernah membaca chat ibu dengan orang itu diam-diam, isi chatnya adalah ibu pernah mentransfer sejumlah uang untuk orang itu ditambah lagi dengan adanya chat mesra antara ibu dan orang itu. Darah saya mendidih. Saya kembali teringat beberapa jam setelah almarhum ayah dikuburkan 13 tahun yang lalu. Ibu berkata seperti ini, “Ibu berjanji akan membesarkan kalian bertiga seorang diri. Ibu akan menjadi ayah sekaligus Ibu untuk kalian.”
Saya sangat marah dan kecewa terhadap Ibu. Setelah saya selidiki lebih lanjut, orang tersebut adalah duda. Yang saya takutkan adalah ibu hanya akan dimanfaatkan dari segi finansial karena (maaf) orang itu tidak memiliki pekerjaan. Ibu saya adalah seorang pegawai negeri.
Lalu saya berunding dengan kedua adik saya. Kami bertiga tidak menyukai laki-laki itu. Sebagai anak tertua saya mengusulkan agar Ibu diberikan dua pilihan; memilih kami atau laki-kali itu. Kalau ibu memilih kami ibu harus meninggalkan laki-laki itu, sedangkan kalau ibu memilih laki-laki itu, kami bertiga akan meninggalkan rumah.
Malam sebelum saya kembali ke kota tempat saya bekerja, saya berbicara dengan ibu. Awalnya saya berbicara baik-baik dengan ibu agar menghentikan komunikasi dengan orang itu; Ibu mengelak kalau ibu ada hubungan spesial dengan orang itu. Karena ibu berbohong, saya jadi naik darah. Saya bongkar semua apa yang telah saya ketahui, sampai masalah transferan uang untuk orang itu lun saya singgung. Saya juga memperingatkan ibu, kalau ibu hanya akan menjadi “kuda beban” orang itu karena laki-laki itu hanya akan menumpang hidup saja. Semua biaya hidup hanya dari ibu, termasuk biaya hidup anaknya dari pernikahan sebelumnya. Tapi ibu bersikeras memilih orang itu dan sangat yakin kalau dia adalah pria yang baik. Ibu juga mengatakan seandainya kami bertiga telah menikah, kamu akan lupa dengan ibu. Oleh karena itu, ibu membutuhkan teman hidup. Ini yang membuat saya sakit hati karena kami saja belum menikah tapi kami sudah “dicap” sebagai calon anak durhaka. Akhirnya saya menangis karena di mata ibu kami tidak lebih berharga dibanding laki-laki yang baru sehari dikenalnya.
Bulan selanjutnya saya pulang ke rumah, tapi saya dan ibu tidak teguran seperti orang yang tidak saling kenal. Ketika berpapasan dengan ibu, ibu hanya menunduk tidak berani menatap saya. Saya hanya berbicara dengan nenek. Di belakang ibu, nenek pun mengatakan kalau nenek tidak merestui hubungan ibu dengan orang itu. Tapi apa daya, nenek tidak memiliki kekuatan yang besar untuk menendangi karena nenek sudah tua dan sakit-sakitan. Bisa saja Ibu mengabaikan perkataan nenek. Sementara itu, saudara dekat lainnya pun banyak yang tidak setuju. Pernah saya curhat kepada om saya. Saya menunjukkan foto laki-laki yang disanjung Ibu kepada om. Om mengatakan kalau om sering melihat orang itu di pasar, dan memang orang itu adalah seorang preman yang pekerjaannya tidak jelas. Saya pun sempat minta tolong kepada om untuk menasihati ibu. Om sangat ingin membantu saya, tapi om harus mencari kesempatan yang tepat untuk berbicara dengan ibu karena kalau om langsung bicara, kesannya sangat tidak etis karena ibu belum buka suara kepada kerabat lain tentang hubungan dan rencana ibu dengan orang itu.
Saya sangat bingung dengan masalah yang sedang saya hadapi. Hubungan saya dengan ibu sangat buruk. Belum pernah seumur hidup saya ribut seperti ini dengan ibu. Menurut laporan nenek dan om, akhir-akhir ini Ibu lebih sering diam dan mengurung diri di kamar.
Saya akui, saya orangnya keras kepala dan keras hati. Mulut saya masih berat untuk menyapa ibu. Kadang kalau saya sedang sendiri dan melamun, masih terngiang2 di telinga saya perkataan ibu yang menyakitkan dan itu membuat saya malas berbicara dengan ibu.
Kepada para konselor, saya mohon bantuan dan pencerahannya. Terima kasih sebelumnya.
Dear Rada,
Kami merasakan kekhawatiranmu terhadap ibu dan menyanyangi ibu untuk tidak jatuh pada pria yang salah. Lebih lanjut, kamu marah terhadap ibu yang akhirnya telah berbohong dan menimbulkan konflik diantara kalian.
Dengan bersikap dingin terhadap ibu, itu tidak akan membuat ibu sadar dan mendekat pada kalian. Pada awalnya, ibu tidak menanggapi pria tersebut, bukan? Tapi lambat laun kemudian dengan berjalannya waktu, mereka semakin dekat. Pria ini mungkin telah menunjukkan kasih dan perhatian pada ibu lebih intens dan pantang menyerah hingga hati ibu tertarik juga. Apakah ibu yg bersalah? Ibu juga manusia biasa yang telah lama tidak berpasangan. Mari coba belajar berempati terhadap kemungkinan ini. Seperti yang ibu kalian sampaikan, bahwa ibu juga memerlukan “teman hidup” karena khawatir ibu akan kalian tinggalkan saat kalian sudah menikah kelak. Jika kita bertindak impulsif dengan mengancam akan meninggalkan ibu bila ia memilih pria tersebut, maka pria itu yang akan menang dalam permainannya. Karena kalian malah membuktikan kekhawatiran ibu (khawatir kalian akan meninggalkannya kelak). Untuk itulah, tetaplah bersama ibu. Berikan kasih sayang dan perhatian lebih pada ibu. “Penuhi kebutuhan kasih sayangnya.” Mungkin selama ini ada ruang kosong dihati ibu, yang bukan dengan mudah namun intens, pria tersebut melihat celah kesempatan itu untuk diisi. Entah pria itu baik atau tidak, hati ibu yang kosong tetaplah harus diisi. Lebih baik oleh pria yang baik dan bertanggungjawab tentu saja. Karena ibu manusia juga yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian. Jika bukan kalian yang mengisi, menurut kalian siapa yang pantas mengisi hati ibu yang kosong? Bagaimana cara mengisinya? Disela amarah kalian yang sedang bergejolak, cobalah berempati pada ibu. Dengan empati, kalian akan menemukan jalan keluar terbaik versi kalian untuk ibu. Mungkin ada pria lain yang lebih baik menurut versi kalian, atau cukupkanlah ibu dengan kasih sayang dari kalian anak-anak ibu: kalian yang lebih tahu jawabannya setelah kalian coba berdiskusi dengan empati: menempatkan perasaan dan kepentingan ibu juga.
Bicarakan baik2 dg ibu di suasana yg nyaman bagi kalian semua, tentang kelebihan dan kekurangan pria tsb. Mungkin ibu jadi akan membuka diri tentang perasaan dan harapannya pada kalian dan kehidupan pribadinya. Begitu juga kalian, anak-anak ibu, akan lebih dewasa dan terbuka dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Ingat, tempatkan empati daripada emosi. Jika diskusi ini berjalan dengan tidak mudah, silahkan datangi psikolog/ psikiater di kotamu untuk berkonsultasi terapi keluarga (family therapy).
Salam.