salam kenal, aku mau curhat ni. aku sudah bingun harus gi mana lagi aku sudah pacaran 2 tahun selama pacaran kami sudah berkomitmen ingin menikah. dan sdh berencana tapi, dia selalu menundah-nundah terus untuk bertemu dengan orang tua ku untuk membicarakan keseriusannya dia selalu buat aku jadi perantara menyampaikan sama orang tua ku. beri kami waktu satu tahun untuk mempersiapkan pernikahan. seiring waktu berjalan, gak ada kemajuan sama sekali. dan gak ada pembahasan apa-apa lagi pada akhir nya 2 bulan mendekati hari pernikahan yg kami rencanakan dia masih selalu memberi alasan-alasan yg dak bisa aku mengerti. pada akhirnya dia bilang ingin menundah, dan meminta waktu lagi, selama setengah tahun lagi. karna dia belum siap dalam hal pinansial. dan itu pun terjadi lagi aku pun memberi ketegasan kepada dia, jika memang dia mau sama aku, aku gak mau ada penunda- nundaan lagi aku butuh kepastian seberapa yang kamu sanggupin aku terima. dia pun mau datang dgn ortunya untuk bersilahturahmi, membahas masalah ini. aku pun kaget apa yg di bicarakan ortunya, mereka bilang punya uang cuma 15jt. aku pun bingung, selama ini dia mengumpulkan uang itu kemana, selama 1tahun setengah. orang tuanya bilang kalau uang itu adalah uang orang tuanya dia gak ada ngumpulin, jadi siapa yang benar aku bingung orang tuanya menjelek-jelekan dia di depan aku bilang dia itu pembohong besar dak bagus semua tentang dia aku kaget kok gitu orang tuanya bilang yg mana yang benar apa yang dia tunjukan kepada ku, atau kata-kata orang tuanya
Aku tahu ini bukan hal yang mudah untuk kamu ceritakan, apalagi ketika kamu sudah memberikan banyak waktu, perasaan, dan harapan selama dua tahun ini.
Dari cerita kamu, aku bisa merasakan kalau kamu benar-benar ingin membangun hubungan yang serius dan sehat, tapi kamu juga mulai merasa capek karena komitmen dari pasanganmu tidak berjalan seimbang. Rasanya pasti menyakitkan dan membingungkan ketika apa yang kamu perjuangkan tidak mendapat kejelasan, ditambah lagi kamu harus berhadapan dengan dua versi cerita—dari dia dan dari orang tuanya.
Aku ingin bilang bahwa rasa kecewa kamu itu valid. Kamu berhak untuk mempertanyakan, untuk merasa bingung, bahkan untuk merasa lelah ketika segala upaya kamu untuk memperjelas hubungan ini tidak mendapat tanggapan yang sama kuat.
Yang perlu kamu tahu sekarang adalah: komitmen itu bukan cuma soal niat, tapi juga soal tanggung jawab dan tindakan nyata. Kalau dia memang serius, seharusnya dia berani hadir, berkomunikasi dengan terbuka, dan mau diajak menyelesaikan masalah bersama. Menunda-nunda tanpa arah yang jelas, atau membiarkan kamu jadi jembatan terus ke orang tua, itu tanda bahwa dia belum siap secara emosional maupun tanggung jawab.
Tentang pernyataan orang tuanya—aku tahu itu bikin kamu makin bingung. Kadang hubungan seseorang dengan keluarganya bisa rumit, bisa ada konflik di dalamnya yang membuat mereka saling menjatuhkan atau tidak saling dukung. Tapi, itu juga bisa jadi pertanda bahwa kamu perlu lebih berhati-hati melihat siapa pasangan kamu sebenarnya, bukan hanya dari yang dia tunjukkan ke kamu, tapi juga dari bagaimana lingkungan dekatnya menilai dia.
-Tim Tanya Konselor-