Jadi begini saya punya ibu yang tempramen dan sering main tangan. Dari kecil saya sering kena marah dan perlakuan main tangan untuk hal hal yang memang salah saya maupun tidak. Ibu saya ini sebenarnya orang yang sayang dan peduli dengan anak anaknya tapi tidak tau mengapa sifatnya yang selalu tidak mau disalahkan meskipun beliau salah itu tidak bisa ditolerir bahkan dengan ayah saya pun begitu. Oleh karena itu, dulu waktu kecil saya lebih dekat dengan ayah daripada ibu. Tapi suatu ketika ibu saya sering cerita kalau ayah mulai berbeda. Itu terjadi waktu saya SD ternyata memang benar ayah saya memiliki hubungan khusus dengan teman kantornya yang sudah dianggap keluarga sendiri. Hancur dan terpukul saya saat itu. Hubungan saya dengan ayah mulai canggung sejak saat itu. Saya jadi lebih dekat dengan ibu karena saya berpikir saya harus bisa melindungi ibu. Namun saat masalah itu usai, ayah pun sudah tidak lagi melakukan hal itu. Tapi dampaknya sangat terasa sampai sekarang. Tiap kali keluarga kami sedikit tersendat dalam masalah financial ibu akan mengungkit ungkit masa lalu ayah, saya sering kena batunya. Sering kali ibu saya justru memarahi saya karena selalu diam saat mereka berdua bertengkar. Ibu saya selalu menyuruh saya untuk bisa mendebat ayah. Tapi karena posisi saya sebagai anak saya tidak perna melakukan itu, tapi dampaknya justru ke saya lagi. Hingga saat ini umur saya sudah 19 th apabila hal yang saya lakukan salah ibu seringkali main tangan dan mengatakan saya bodoh goblok atau semacamnya. Saya bingung saya harus bagaimana ? kalau diteruskan untuk sabar saya rasa saya bisa tapi rasanya tertekan apabila terlalu lama seperti ini. Bahkan saya merasa saya lebih baik diluar rumah karena saya tidak merasakan “rumah” di rumah saya sendiri
Hai Kak Luthfi, sebelumnya mohon maaf ya kak, karena baru bisa menjawab curhatan-mu saat ini 🥺🙏 tapi terimakasih banyak atas kepercayaannya, aku sangat mengapresiasi keberanian kakak terbuka pada pengalaman kakak disini 🤍
Sudah terlalu lama ya kak sejak kakak menulis cerita kakak ini, gimana kabarnya hari ini kak Luthfi ? Aku berharap dimanapun berada kak Luthfi selalu diberkahi sehat dan bahagia ya 🫶
Capek banget ya kak merasa terus-terusan disalahkan dan dijadikan tumbal kemarahan orang tua. Bukan cuma saat ini saja, melainkan dari kecil kamu sudah harus merasakan hal tersebut.
Wajar kak kalau kamu merasa tertekan.
Wajar juga kalau kamu merasa lebih nyaman di luar rumah.
Karena rumah yang seharusnya aman, justru bikin kamu tidak merasa “punya tempat”.
Seringkali kita sebagai anak hanya bisa diam ketika melihat kedua orang tua bertengkar, diam karena bingung harus apa, diam karena lelah mendengar mereka terus-menerus bertengkar dirumah, diam karena kakak merasa tidak punya daya untuk bisa berdebat dengan ayah dan memotong perbincangan mereka. Aku paham kak aku paham dengan apa yang kakak rasaka kala itu, tapi.. kamu hebat kak, bisa bertahan dan tetap menjadi penengah untuk mereka. Kakak memilih diam dan mendengar setiap perkataan buruk yang keluar serta menerima setiap perlakuan Ibu. Mungkin jika kakak memilih melawan mereka dan berdebat dengan ayah, akankah suasananya akan tetap sama seperti sebelumnya ? Apakah ada kepastian jika Ibu benar-benar lega dan sembuh apabila kakak melakukan hal itu ?
Jawabannya belum tentu kak. Karena kakak atau aku tidak benar-benar tau apa yang dirasakan Ibu saat ayah menyakitinya dengan jalan yang tidak bisa diterima oleh semua perempuan. Itu artinya kakak gabisa mengontrol apa yang orang lain pikirkan atau rasakan, tapi kakak bisa mengontrol diri kakak dan kakak tau apa yang kakak lakukan untuk bisa merasa ringan, mungkin dengan jalan keluar atau memilih nonton film di kamar. Jadi sabar itu bukan berarti kakak DIAM yang berarti tidak melakukan apa-apa tapi bagaimana kakak sadar dengan apa yang dirasakan. Kakak boleh diam ketika situasinya memang mengharuskan kakak diam agar tidak makin buruk, tapi kakak boleh melindungi diri jika hal itu sudah sampai membuat kakak merasa sakit baik secara fisik maupun mental. Dan aku sudah bisa melihat kamu berusaha sabar sejauh ini. Jadi terimakasih ya kak, sudah berusaha sabar dan bertahan. Pelan-pelan ajak Ibu ngobrol santai cukup membicarakan hal-hal yang kalian suka dan setelahnya kamu bisa mengajak Ibu ke orang yang lebih profesional agar beliau dapat merilis semua emosinya dengan cara yang baik.
Semangat ya kak,
Kamu pasti bisa, kamu kan HEBAT 😊
~ Tim Tanya Konselor