Hallo. Untuk semuanya mohon pencerahannya
Saya punya trauma masa kecil. Memang bukan pemukulan. Tapi batin. Dimana orang tua saya mengalami penurunan ekonomi secara drastis dan mengakibatkan hutang. Waktu kelas 6 sd saya sudah ditinggal ke sumatera dan hampir semua barang kami dijual. Hutang dimana2 dan yang paling parah di seorang rentenir. Lalu terpaksa rumah kami harus terjual. Dan ayah saya mulai kecewa dengan ibu saya waktu itu juga berulang kali ibu saya tertipu dengan orang. Hal yang sama terulang. Hutang dimana mana dan ayah saya mulai berselingkuh dengan wanita lain. Saya kecewa terhadap ayah saya. Dan saya tumbuh menjadi pribadi yang tidak jujur dan banyak kesedihan. Banyak masalah yang saya alami tanpa pikir panjang dan tidak sadar melakukan hal itu. Lalu saya sadar bahwa apa yang saya lakukan selama ini menurut saya ada kepribadian lain. Tapi ada beberapa ciri ciri dari kepribadian ganda yang tidak sesuai pada yang saya alami. Hanya saja yang saya tau saya selalu emosi pada pasangan saya bahkan berlebihan tapi saya tidak pernah melakukan itu pada teman bahkan karakter itu muncul hanya ketika saya sakit ati. Apa solusi untuk saya? 🙁
Dear Tan Pungky,
Saya apresiasi kejujuran Anda mendeskripsikan pengalaman masa kecil Anda sebagai kaitan dari bagian pengaruh kehidupan masa sekarang.
Yang saya rasakan, Anda diliputi kemarahan. Marah akan situasi masa lalu. Marah terhadap orangtua yang kita harapkan bisa membahagiakan anak-anaknya. Marah terhadap ayah yang seharusnya setia pada ibu. Marah pada ibu yang seharusnya bisa mengontrol diri agar tidak terlilit hutang. Dsb. Namun kita tidak bisa marah terhadap orgtua kita, karena superego moral kita sejatinya mengatakan bahwa kita adalah anak yang menyayangi orangtua kita. Jadi kita tidak bisa marah terhadapnya. Kita represi (perasaan emosi yg terpendam/ ditahan). Oleh karena kemarahan itu adalah sebuah energi, dan energi itu tidak dapat dimatikan tapi bisa dipindahkan, maka muncul proyeksi yang merefleksikan emosi berlebihan terhadap pasangan yang notabene sayang terhadap kita. Anda berlaku tidak jujur karena terbentuk dari akumulasi masa lalu. Dan selalu diliputi kesedihan karena sebenarnya Anda tidak nyaman dengan semua ini pada diri Anda.
Manusia dalam menghadapi kehidupannya terbentuk dari 2 hal: Nature (pembawaan alami) dan Nurture (pengasuhan). Pengasuhan masa kecil dan pembawaan alamiah kita berpengaruh pada bagaimana kita mengambil sikap di masa sekarang, baik secara sadar dan tidak disadari (dibawah sadar). Saya bisa pahami pengasuhan masa kecil Anda yang tidak menyenangkan telah membawa Anda pada situasi sekarang. Kabar baiknya, Anda menyadari akan hal itu. Dan Anda menyadari perasaan Anda. Bisa jadi itu karena Nature alamiah Anda yang sejatinya Anda adalah pribadi yang baik.
Tinggal PR-nya adalah kita harus menyadari juga bahwa apapun di masa lalu bukan dapat dimaklumi untuk dijadikan “excuse” atau alasan kita berbuat hal yang tidak semestinya. Anda tentu merasa tidak nyaman menyakiti perasaan pasangan Anda, bukan? Kita merasa diperlakukan tidak adil di masa dulu, bukan berarti kita diperbolehkan berlaku tidak adil pada orang lain di masa sekarang. Kita merasa disakiti di masa lalu, bukan berarti kita diperbolehkan menyakiti orang lain di masa kini, apalagi terhadap ia yg tidak ada kaitannya dengan kejadian di masa lalu. Itu tidak akan membuat diri kita lebih baik, tapi justru sebaliknya. Kita tidak ubahnya sama dengan orang yang kita benci di masa lalu. Padahal kita tidak ingin seperti itu. Namun mengapa itu terasa sulit? Kawan, percayalah itu akan mudah, jika kita berani untuk memulai. Memulai untuk berubah. Ya, mulai saja dulu. Nanti akan terbiasa, perlahan demi perlahan. Hingga suatu saat kita sendiri tidak percaya bahwa kita telah menjadi pribadi yang lebih baik.
Bagaimana cara memulainya?
1. Pindahkan energi negatif Anda pada sesuatu yang positif, atau setidaknya netral. Anda marah, alihkan pada olahraga/ ngegym/ marathon/ bersepeda/ boxing/ dsb. Lakukan sesuatu yang membutuhkan energi. Salurkan semua energi negatif Anda terhadap aktivitas itu. Hingga energi itu habis dan Anda tidak punya energi lagi untuk melampiaskan kemarahan. Anda akan terhindar dari menyakiti perasaan atau merugikan orang lain, dan itu berarti Anda terhindar dari menyakiti perasaan diri Anda sendiri. Bonusnya, Anda lebih sehat secara fisik. Kondisi fisik bugar membantu Anda berpikir baik secara mental. Dan membantu Anda berlatih konsisten.
2. Menerima. Penerimaan itu mudah asal kita tahu konsep sederhana dalam hidup. Tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang dalam hidup ini. Sesungguhnya semua itu pas sesuai dengan porsi masing-masing. Hanya saja, manusia yang selalu merasa bisa mengukur lebih dan kurangnya sesuai dengan tolok ukur yang sayangnya mereka bandingkan dengan orang lain.
3. Konsultasi ke Psikiater terdekat di kota Anda untuk mendapatkan psikoterapi lebih lanjut. Dia akan membantu membersamai Anda beberapa sesi untuk mencari solusi terbaik versi Anda.
Entah mengapa saya yakin Anda adalah pribadi yang baik. Teruslah berusaha untuk memahami diri Anda dan memaafkan semua yang telah terjadi. Dan bersiaplah menjadi pribadi yang tenang, bijak dan bermakna. Salam.