Menangani pasangan depresi

Tanya KonselorCategory: PsikologiMenangani pasangan depresi
Dying Inside asked 7 years ago . Client detail : , y.o

Halo. Saya wanita berusia 20 tahun sekarang punya pasangan (pacar) yg usianya 21. Awal bertemu dia baik dan agamis. Namun lama kelamaan dia mulai menunjukkan sisi depresinya. Seperti menghancurkan barang, berteriak2 dijalan, bahkan menggonceng saya dengan kecepatan laju.
Saya ingin bertanya bagaimana saya menangani dia tanpa terkena depresi juga ya dok. Karena setiap saya nangis dan ketakutan dia marah dan menyalahkan dirinya. Saya ingin bicara ttg keadaan saya namun saya juga takut dengan akibat yg ditimbulkan (ngamuk). Sudah dibawa ke psikiater dan psikolog namun tidak ada perkembangan juga. Bagaimana ya dok?

1 Answers
Alvian Fifin Setyawati Staff answered 2 years ago

Halooo, sebelumnya terima kasih banyak ya sudah mau sharing di web curhat online ini dan terima kasih yaa karena kamu sudah mau validasi apa yang lagi kamu rasakan
Kami sangat memahami bahwa kamu sekarang berada di dalam situasi yang sulit dan cukup menantang atau bahkan mengkhawatirkan. Menghadapi pasangan yang mengalami depresi dan menunjukkan perilaku agresi merupakan hal yang mempengaruhi kesehatan mental dan emosional kamu. penjelasan agresi sendiri dalam psikologi sosial menurut Aronson yaitu “tingkah laku yang dijalankan oleh individu dengan maksud melukai atau mencelakakan individu lain dengan atau tanpa tujuan tertentu” dan perilaku agresi itu sendiri dibedakan menjadi 2, yaitu  : 

  1. instrumental agression

bertujuan untuk menyakiti orang lain, namun ada tujuan lain yang lebih utama, yaitu untuk mewujudkan suatu tujuan lain seperti uang, kemenangan, atau prestise.
 

  1. Hostile aggression

tujuan utamanya adalah untuk mencederai atau melukai orang, makhluk hidup, dan benda lain. Perilaku agresif jenis ini selalu berkaitan dengan rasa marah yang mengarah pada violence (kekerasan)
perlu kamu ketahui bahwa kesehatan dan keselamatan kamu juga penting. Menghadapi pasangan yang memiliki masalah depresi dan perilaku agresif bukanlah tanggung jawab kamu sendiri, dan kamu tidak seharusnya menanggung beban ini sendirian. Tugas kamu hanya cukup menyayangi dan mengasihi pasangan mu sebaik-baiknya dan semampu kamu, bagaimana respon dia terhadap kamu itu sudah diluar kendali kamu, dan kamu tidak bisa mengontrol itu semua.
Informasi untuk kamu, bahwasannya memiliki penyakit mental itu penyembuhannya tidak secepat dibanding dengan memiliki penyakit fisik. Bahkan bisa dikatakan tidak akan pernah sembuh, hanya bisa dibantu meredakan apabila ybs sedang berada di fase depresinya.
Kemudian, kamu tidak bisa serta merta menjadi caregiver dia. Pada saat ini, status kamu dan dia masih berpacaran, dimana yang lebih dia butuhkan adalah support system dari orang sekitarnya, masih ada keluarganya. Keluarga adalah support system paling dekat dan terdekat untuk seseorang yang memiliki mental health. Apabila keluarga sudah bukan support system terdekat, kamu bisa menyarakan ke psikolog/psikiater, namun kembali lagi harus sesuai dengan keinginan ybs, apakah ybs ingin dibantu masalahnya atau tidak?
Kami paham kamu sangat peduli dengan pacar kamu, sehingga kamu mengikuti perkembangan dari proses konsultasi ybs. Namun, perlu diingat kembali, bahwasannya dalam proses konsultasi masalah mental health itu tidak cepat dan juga harus didukung oleh keinginan diri dia sendiri untuk sembuh.
Saran kami untuk kamu, sayangilah diri kamu sendiri dulu. Apabila kamu merasa hidupmu terancam, lebih baik untuk menyudahi hubungan. Karena berdasarkan dari cerita kamu, hubungan kamu dengan dia pun kurang sehat. Dimana nyawa kamu pun juga terancam. Hubungan yang sehat itu dimana keduanya merasa aman dan nyaman satu sama lain.
Kami sangat paham, melepas seseorang yang sangat kamu perdulikan itu tidak mudah.  Namun, perlu diingat kembali juga, bahwasannya dirimu mu berharga. Lihatlah kembali sekelilingmu, siapa saja yang sangat menyayangimu dan memberikan rasa aman kepadamu. Menyayangi seseorang tidak harus bersama, bahkan support  dia dari jauh pun juga bisa sebagai bentuk menyayangi.
Untuk kamu, terima kasih sudah peduli dengan mental health seseorang, namun jangan lupa untuk lebih perdulikan dirimu sendiri dulu.