Halo kakak-kakak admin semua.. Di curhatan ini aku mau cerita tentang masalahku yang aku sendiri udah capek menghadapinya. Ceritanya bakal panjang dan rumit, tolong dibaca sampai selesai yaaa..
Jadi pada pertengahan 2017 lalu, aku mengalami depresi ringan. Waktu itu aku malas sekali keluar kamar, sering bolos kuliah, sering sedih dan selalu kelelahan. Selain itu aku juga mengalami insomnia. Waktu itu setiap aku gabisa tidur, ada seorang teman pria yang selalu menemani chatting (anggap saja namanya R). Aku awalnya cuma teman di organisasi yang sama dengan R, dan sering pulang bareng karena kos kami berdekatan. Belum ada perasaan apa2 waktu itu.
Aku sendiri saat itu sudah punya pacar dan menjalani LDR, hubungan kami sudah berjalan 3 tahun lebih pada waktu itu. Tapi pada saat itu aku sering sekali bertengkar dengan pacar karena curhatan2ku tentang kuliah yang dianggap dia sebagai mengeluh. Dia juga sering bilang bahwa dia capek harus terus2an babysit aku. Hal itu bikin aku sedih sekali.
Hubungan kami semakin kacau ketika aku memutuskan untuk pergi ke pusat konseling. Aku sadar bahwa aku butuh bantuan professional. Orang pertama yang aku beritahu bahwa aku mau pergi konseling adalah pacarku, tapi dia malah marah2 dan mengatakan bahwa aku aneh. Aku sakit hati sekali dengan perkataannya.
Karena aku merasa ini hidupku, aku tetap pergi konseling. Setelah beberapa kali konseling, aku dirujuk ke psikiater untuk diresepkan obat2an antidepresan dan untuk insomnia. Singkat cerita setelah aku pergi ke psikiater, aku ketemu dengan temanku R ini buat nganterin makanan dan dia tanya aku sakit apa (karena waktu itu aku bilang aku ke dokter). Karena sudah mulai menerima bahwa aku depresi, aku bilang sejujurnya ke dia bahwa aku depresi. Responnya dia hanya tersenyum dan kemudian bertanya tentang keadaan aku. Moment ini membuat aku terkesan dengan dia karena responnya baik dan bukan mencemooh.
Beberapa bulan setelah kejadian itu aku dan R sering terlibat dalam 1 kegiatan yang sama di organisasi, dan membuat kita berdua semakin dekat. Aku mulai suka sama R, tapi masih denial dan berusaha menepis perasaanku karena masih pacaran dan juga kami beda agama. Karena pada waktu itu aku hampir setiap hari ketemu R dan juga sering chattingan, lama2 aku mengakui kalau aku suka dia.
Karena sering chatting, suatu hari dia chat mengarah ke seksual dan minta foto bagian2 pribadi aku. Karena aku takut hubungan kami akan canggung kalau tidak ditanggapi, aku akhirnya video call dan menunjukan beberapa bagian pribadi ke dia. Lagipula aku dengan pacarku juga sudah sering begitu dan aku dengan pacar sudah pernah petting. Setelah beberapa kali sexting dengan R dan semuanya keliatan baik2 saja, aku menyatakan perasaan sama dia. Waktu itu aku bilang gausah dijawab, dan dia juga bingung dan bilang aku masih punya pacar.
Setelah aku menyatakan perasaan, kami masih sexting beberapa kali, sampai suatu kali dia tiba2 inget kalo aku masih dalam status pacaran dan langsung bilang untuk mengakhiri sexting ini. Karena aku juga belum putus, jadinya aku juga setuju dan ga sexting lagi. Cuma waktu pacarku lagi ke kotaku dan waktu kami jalan bareng ga sengaja ketemu si R, dia sibuk tanya2 aku kemana sama pacarku dan ngapain aja. Beberapa kali juga dia yang reach out aku duluan, jadi hubungan kami kaya tarik ulur begitu.
Kemudian awal 2018, aku dan R malah melakukan petting, sampai menyentuh bagian2 pribadi juga (tapi tidak sampai intercourse). Setelah kejadian petting tersebut, R jadi semakin dingin sama aku dan perlahan menjauh. Selain masalah pribadi kami, di organisasi kami sering cekcok juga, itu memperkeruh hubungan kami. Febuari 2018, R tanya lagi sama aku apakah aku masih ada perasaan dan menyuruh aku move on. Dia bilang kalo dia ada perasaan untuk aku, maka dia ga akan berani mengajak aku sexting dan lainnya.
Karena masih komunikasi dan ketemu, aku masih belum bisa move on. Waktu itu aku masih memberikan perhatian2 kecil, dan dia bilang itu membuatnya risih. Dia sampai foto berdua teman perempuannya dan upload di IG dan mengaku itu sebagai pacarnya supaya aku menjauh. Tapi tiap aku berusaha menjauh, dia juga masih bikin aku kegeeran seperti nanyain apakah aku balikan dengan pacarku, dll.
Mei 2018, aku mengaku ke pacarku kalau aku sudah selingkuh dengan R dan menceritakan dengan detail apa yang sudah kami lakukan. Pacarku memaafkan dan kami gajadi putus. Waktu itu aku senang sekali, tapi itu cuma berlangsung 2 minggu. Setelah itu aku masih sedih karena sudah tidak komunikasi dengan R ini. Yang memperparah, waktu komunikasi terakhir aku dengan R, aku bercanda bilang dia jangan terlalu jahat ke aku, apalagi sampai bilang risih ke aku, nanti dia menyesal. R menjawab dengan kalimat “kalo kamu uda cantik ya?”.
Rasanya waktu itu harga diri aku runtuh. Gimana bisa dia yang duu sering ngajakin sexting sekarang bilang aku jelek? Emang aku seburuk itu? Aku kehilangan kepercayaan diriku. Dan juga kebahagiaanku.
Sekarang sudah hampir 1 tahun kami tidak komunikasi, tapi aku masih begitu sedih. Aku sudah mencoba cerita ke konselor, teman, ke website psikologi, tapi orang2 cuma menyepelekan ceritaku. Mereka bilang, saat ini aku punya pacar dan harusnya fokus ke pacarku. Tapi hatiku masih tetap sakit. Teman2 sudah bosan dengar ceritaku. Jadi ini harus aku pendam sendiri. Aku ga mungkin cerita ke pacarku karena itu menyakiti dia. Konselorku cuma menyuruh aku berdoa dan tanya pada Tuhan.
Aku capek. Keadaan bertambah buruk karena baru2 ini si R sudah pacaran dengan teman perempuannya itu. Aku jadi berpikir “kenapa dia pantas disayang sedangkan aku tidak?”. Kenapa cewe itu berhak diperlakukan baik sedangkan aku tidak?
Aku uda mencoba semua cara untuk bisa move on. Mulai dari mulai ngegym, belajar skin care, belajar makeup, baca artikel, baca buku self upgrading, bahkan mengikuti kelascinta.com. Tapi semuanya rasanya sia2, tiap aku mendengar kabar tentang R dan pacarnya aku terpuruk lagi. Parahnya, akhir Maret kemaren aku sampai sakit demam karena terlalu banyak memendam emosi ini.
Yang memperburuk keadaan adalah pengalaman aku beberapa tahun lalu yang juga pernah mengalami pelecehan. Pria yang waktu itu dekat denganku menciumku tanpa seijin aku, beberapa bulan kemudian dia mencampakkan aku dan pacaran dengan orang lain. Dengan 2 kejadian ini, aku merasa apa aku tidak pantas disayang? Aku cuma mau disayang dengan seharusnya. Bukan jadi objek seksual mereka. Aku harus gimana, hal ini terus2an buat aku sedih dan aku mulai berpikir untuk bunuh diri. Aku udah bener2 gatau harus gimana lagi…
Dear Anastasia, you are loveable. Trust me.
Banyak yg perhatian dan care sama kamu. Tapi kadang tanpa kita sadari, mungkin kita hanya memilih untuk fokus pada sebagian orang yg menurut kita layak untuk menyayangi kita. Sementara banyak sebagian orang lain di sekitar yang care juga sama kita, lewat begitu saja. Cuma mungkin kita yang memilih, ah mereka tidak penting. Jadi, mengapa kita tidak mulai menyayangi lebih banyak orang di sekitar kita daripada berfokus pada diri sendiri?
Menyayangi tidak harus berkaitan dengan seks. Perilaku peduli merupakan salah satu bentuk rasa sayang. Cobalah untuk melakukan sesuatu yang berarti bagi orang lain tanpa pamrih atau mengharapkan kembali. Itu mungkin akan jadi penghargaan bagi dirimu sendiri. Dan bisa meningkatkan kepercayaan dirimu. Misalnya, mulai dari lingkungan keluarga. Luangkan waktu untuk “killing time” seperti nonton bioskop bareng saudara terutama di saat mereka membutuhkan partner. Dan banyak hal lain yang bisa kamu lakukan dengan orang di sekitar yang membutuhkanmu. Ketika mereka bilang terima kasih dan menyadari bahwa kamu ada untuk mereka, itu akan menjadi kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri atas pencapaian dalam hidup. Rasa percaya diri pun bangkit.
Anastasia, kamu tidak sendiri. Banyak orang yang mengalami rendahnya kepercayaan diri. Dan itu wajar. Dunia membentuk karakter pribadi kita untuk lebih tangguh dari usia sebelumnya. Biasanya mereka yang percaya dirinya rendah adalah orang yang memiliki perasaan buruk tentang dirinya sendiri, sering merasa tidak mudah dicintai, canggung, atau merasa tidak kompeten, cenderung hipersensitif, memiliki perasaan rapuh tentang diri sendiri yang dapat dengan mudah terlukai oleh orang lain, terlalu peka terhadap tanda-tanda penolakan dan ketidakpuasan (bahkan ketika sebenarnya hal itu tidak terjadi). Itu terjadi karena “otomatisasi berpikir” bahwa bahaya akan mengintai dirinya terhadap penilaian buruk orang lain terhadapnya atau memalukan. Padahal mungkin orang lain tidak beranggapan seperti itu, dan jika itu benar terjadi perkataan mereka merupakan angin lalu saja, atau sudah jengah terhadap kita yang over-critical terhadap diri sendiri. Ya, orang yang percaya dirinya rendah biasanya terlalu mengkritisi dirinya sendiri.
Jadi,
1. Stop terlalu mengkritisi diri sendiri. Cobalah sadari saat kata batinmu yang negatif menyerang, itu saatnya kamu menentang dengan menerima dirimu apa adanya. Kalau perlu, tulis kelebihan dan positifnya dirimu, untuk mengingatkan kembali betapa baik dan berharganya kamu. Merasa tidak menemukan kelebihanmu? Saya yakin, setiap orang punya kelebihan. Bagi orang yang merasa tidak percaya diri, mulailah coba untuk mengakui bahwa kelebihan-kelebihanmu adalah bagian dari dirimu. Dengan menerima kelebihanmu, kamu akan menerima pula kekuranganmu. Tidak ada yg salah dengan kekurangan. Setiap orang memilikinya. Itu manusiawi.
2. Ingat, ketidaksempurnaan adalah bagian dari pengalaman manusia dan sesuatu yang kita semua miliki. Deal with it! Dari situ kita akan belajar untuk tidak mengulang kesalahan yang sama dan konsisten untuk membenahi diri.
3. Stop membandingkan diri dengan orang lain. Satu-satunya orang yang patut kita bandingkan adalah diri kita sendiri versi masa lalu. Fokus saja pada kamu ingin menjadi tipe orang yang seperti apa sekarang. Tetapkan tujuan dan ambil tindakan yang konsisten dengan “value” kamu sendiri.
4. Nyaman pada diri sendiri. Kebutuhanmu adalah relasi (hubungan dengan orang lain). Tapi itu tidak akan nyaman selama kamu tidak nyaman dengan dirimu sendiri. Caranya adalah integrasikan dirimu, kamu harus sesuai dengan perkataanmu sendiri, sesuai dengan value yang sudah kamu tetapkan. Jadi ketika kata-kata batin negatif menyerang, kamu sudah punya tameng bahwa kamu telah melakukan yang terbaik pada dirimu sendiri. Itu akan mencegahmu dari perasaan bersalah pada diri sendiri karena merasa tidak kompeten yang menurunkan harga diri dan kepercayaan dirimu.
5. Lakukan kegiatan yang bermakna. Studi menunjukkan bahwa sukarelawan memiliki efek positif pada perasaan orang tentang diri mereka sendiri karena mereka menemukan “tujuan yang lebih besar daripada diri sendiri.” Ketika melakukan kegiatan yang bermakna, penting untuk memikirkan apa yang terasa paling penting buat kamu. Kamu bisa mengajar sederhana bagi anak jalanan, berbagi di panti jompo, bertanam pohon bersama teman, dll. Temukan makna dan harga dirimu di sepanjang jalan kegiatan.
Semoga kamu segera menemukan kebahagiaan, Anastasia. Saya percaya kamu akan bangkit percaya diri dan cemerlang.