kebiasaan-untuk-mendahulukan-orang-lain

Tanya KonselorCategory: Psikologikebiasaan-untuk-mendahulukan-orang-lain
Zuhriyyatul Athiroh asked 4 months ago . Client detail : female, 19-24 y.o

maaf kak, mengganggu waktunya. aku mau cerita kak, sebenarnya kebiasaan kayak gini aku miliki bukan hanya dekat2 ini,, tapi udah berlangsung lama. jadi, aku tipe orang yang selalu mendahulukan orang lain sampai menyenangkan orang lain hingga lupa akan apa yang dibutuhkan diriku. awalnya aku ga sadar kak, yaudah aku anggap itu hal yang biasa terjadi di kehidupan normal. tapi semakin hari, aku ngerasa makin berat. aku sampai nangis dan berakhir dengan membenci diri sendiri. tapi semakin aku berusaha berhenti untuk kebiasaan ini,, aku malah overthinking kak. aku malah memikirkan sesuatu yang sebenarnya itu tidak terjadi. dan akhirnya, aku melakukannya lagi. mencoba membuat orang lain senang, mencoba untuk selalu membuat pikiran orang lain ke aku positif, meski aku tau bahwa pemikiran orang lain tak bisa aku kendalikan. aku berusaha untuk menjadi diri sendiri ke orang lain, hingga ada di satu titik, aku tak mengenali apa yang diinginkan dari diriku. aku ga bisa ngomong sesuatu kayak gini ke orang tua, karena sejujurnya hubungan kami tidak terlalu baik. bahkan untuk ngomong \”tidak\” ke orang lain itu susah banget bagi aku. pasti aku akan jawab, \”iya, aku usahain\”. \”iya, entar aku yang kerjain\”. \”gapapa, aku aja\”. dan hal2 seperti itu. bagaimana ya kak?

1 Answers
Fatimah Azzahra Staff answered 2 months ago

Hi Zuhriyyatul Athiroh.
Terima kasih udah mau berbagi cerita kamu ke kami. Aku paham rasanya berada di posisi mu pasti ga nyaman banget ya, tapi kamu perlu tahu bahwa kamu luar biasa sekali karena mampu bertahan dan tetap hidup dengan baik hingga ini.

Aku mengerti bahwa kebiasaanmu untuk selalu mendahulukan orang lain bisa menjadi beban yang sangat berat. Kadang-kadang kita cenderung mengorbankan kebutuhan dan kebahagiaan diri sendiri demi menyenangkan orang lain. Namun, perlu diingat bahwa memperdulikan diri sendiri juga sangat penting.

Overthinking tentang bagaimana cara membuat orang lain bahagia bisa menjadi lingkaran setan yang sulit dihentikan. Aku mengerti bahwa memutuskan untuk berhenti melakukan hal ini bisa menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika kita terbiasa dengan pola perilaku tertentu.

Terkait dengan kesulitanmu untuk mengatakan “tidak” dan berbicara terbuka kepada orang tua, itu adalah hal yang wajar. Tapi, penting untuk dicatat bahwa menghormati dan menjaga diri sendiri juga penting.

Mungkin kamu bisa mulai dengan langkah kecil, seperti menetapkan batasan-batasan yang sehat dalam hubungan dengan orang lain dan mengambil waktu untuk memprioritaskan kebutuhanmu sendiri. Terkadang, berbicara dengan seorang profesional atau mencari dukungan dari teman dekat juga bisa membantu.

Aku tahu, pasti rasanya berat yah jalanin hidup kayak gitu. Tapi aku yakin, kamu bisa lewatinnya. Yuuk semangaaaat lagi.. Salam hangat untuk Zuhriyyatul Athiroh.
Virtual Hug.