Saya wanita yang baru 5 bulan menikah. Orang tua suami saya tinggal satu (mertua perempuan). Semenjak menikah dengan suami, saya tinggal bersama di rumah mertua karena suami anak laki-laki satu-satunya dan ingin menemani ibunya. Adik perempuannya kerja di luar kota. Sedangkan saya sebagai perempuan tentu ingin hidup mandiri setelah berumah tangga. Sebenarnya saya lebih nyaman untuk tidak tinggal serumah dengan mertua maupun orang tua saya setelah menikah. Karena bagaimanapun otoritas sebagai istri tidak akan berjalan sepenuhnya jika ada orang tua. Bukannya saya tidak suka tinggal dengan orang tua yang sudah berpengalaman, tetapi kemungkinan untuk terjadi intervensi dan kesalahpahaman sangat terbuka.
Seperti yang pernah saya alami baru-baru ini, suami mendiamkan saya karena saya dianggap melakukan kesalahan, kurang becus menjadi perempuan dan istri. Padahal seperti perkataannya dulu bahwa saya mengerjakan pekerjaan rumah semampunya. Kenapa sekarang harus dituntut untuk mengerjakan ini dan itu? Bahkan di saat saya sedang hamil muda. Terus terang, saya merasa lelah dan tidak betah lama-lama tinggal di rumah mertua. Istri itu membantu suami untuk berbakti tetapi bukan untuk dijadikan seperti pembantu.
Selama ini saya diam saja tidak menceritakan apa yang saya rasakan kepada suami. Karena saya tahu pasti suami akan tetap mempertahankan untuk tinggal di rumah ibunya, Sedangkan saya yang ingin menginap di rumah orang tua saya semalam saja susah sekali. Dengan alasan agar tetap menemani ibunya agar tidak sendirian. Sedangkan suami saya tidak mau jika ditinggal tidur sendiri. Dimana keadilan untuk saya? Saya merasa dijauhkan. Bukankah ada kalanya seorang anak rindu dengan orang tuanya? Apalagi saya anak satu-satunya? Bagaimana perasaan orang tua saya? Suami sering bilang kalau kami ada waktu langsung main saja kesana tapi kalo tidak saya ajak juga tidak bakalan kesana. Sering ditunda-tunda. Pernah ibunya mengajak keluar padahal sudah janji sama saya mau main ke rumah orang tua saya. Akhirnya ditunda-tunda terus. Mangkel, gelo, sebel. Saya yang akhirnya mengalah main ke rumah orang tua saya sendiri di sela-sela waktu kerja saya.
Bagaimana solusi atas masalah saya tersebut?
Dear EL,
Saya menangkap perasaan kamu sedang marah dan merasa diperlakukan tidak adil. Kamu sudah berusaha namun hasilnya nihil.
Ada beberapa opsi yang bisa EL pakai untuk menuntaskan permasalahan ini. Pertama, ajaklah suami untuk mengikuti konseling terapi marital di psikiater terdekat di kotamu. Pada beberapa sesi, kalian akan diberi kesempatan untuk menjabarkan satu sama lain tentang konsep cinta dan komitmen yang dibangun dalam rumah tangga versi kalian. Perlahan tapi pasti, kalian akan dipertemukan dengan solusi terbaik versi kalian melalui mediator psikiater tersebut. Mengapa perlu konsultasi? Karena dalam rumah tangga, ada 2 pribadi yg disatukan. Dua pribadi ini memiliki karakter dan kepentingan yang tidak dapat diharmonisasikan. Apalagi ada kehadiran figur signifikan lain (dlm hal ini ibu) yang tidak dapat kalian selesaikan. Oleh karena itu, kalian perlu membutuhkan konsultan ahli.
Kedua, jika suami tidak mau diajak untuk berkonsultasi. Tetaplah pada rasa sayang hormat dan bakti pada suami. Iya, akan ada pengorbanan walau selama ini kita merasa sudah banyak berkorban untuk org yg kita sayangi. Mungkin begitu juga yg suami rasakan: dia rasakan pengorbanan ibunya terhadap dirinya selama sepanjang hidup sehingga ia begitu cinta terhadap ibunya. Kita tidak bisa serta merta menggantikan, bahkan menyingkirkan, cinta anak terhadap ibunya. Yang ada adalah kita selalu hadir dalam kasih sayang yang ia butuhkan, sebagai istri pasangan hidupnya. Saya mengerti, EL juga punya keinginan dan ingin dimengerti. Saat kasih sayang kalian tumbuh kuat satu sama lain, saat itulah coba kalian bicarakan baik-baik dengan suasana yang nyaman tentang kehidupan rumah tangga kalian. Kadang, habiskan waktu berdua dengan ibu mertua secara efektif untuk mendekatkan diri. Lakukan sesuatu yang kalian berdua senangi. Lupakan soal kepentinganmu sejenak, dan coba rasakan kesenangan bersama mertua. Ibu mertua akan juga merasakan betapa EL mengasihi putranya dan akan bahagia juga jika kalian bahagia.
Beritahu kami tentang perkembanganmu, EL.
Salam.