Menikah 4bln yg lalu, sekarang sdh lahir bayi usia 4 bln. Menikah karena MBA..ortu sy awalnya setuju namun setelah melihat kelakuan suami sy yg malas dan blm punya kerja tetap,,ortu tdk setuju tapi karena faktor hamil jd tetap dilangsungkan pernikahan. Ortu pihak suami pun sama awal tdk setuju karena fisik sy gemuk dan wajah bukan Chinese karena suami etnis Tionghoa. Padahal sy jg Tionghoa tp kulit hitam.
Selama pernikahan damai. Tapi saat ibu sy SMS yg tanya kabar sy dan tanya suami ngapain?sy jawab jujur apa adanya.suami marah,,,lalu tdk lama ibu sy SMS lagi tapi sekedar tanya kabar sy dan nasihati kl hamil ga boleh ini itu. Sy agak bandel,ibu sy marah dan SMS yg ga karuan bilang kl sy lebih nurut orang lain drpd ibunya sendiri. Suami baca SMS itu dan tersinggung dia dibilang orang lain. Kebetulan suami punya darah tinggi dan sensitif orangnya jd cepat marahnya. Kami pun ribut lagi.
Kebetulan sy dan suami hanya nikah gereja saja dan blm nikah negara. Suami mempertanyakan akte anak jika tdk cepat nikah negara. Ortu sy tdk setuju sy nikah negara karena takut suami sy kelakuan tdk benar alias masih malas dan tdk nafkahi, jd jika kelak cerai mudah. Ortu sy bersikap begitu karena ada saudara sy yg nasibnya serupa dpt suami dr online to kelakuan malas dan suka selingkuh pd akhirnya mau cerai dipersulit. Makanya ortu sy melarang sy nikah negara.
Suami marah kenapa ga mau nikah negara. Sy bilang kk nya ditahan ortu jd ga bisa urus surat2. Kami bertengkar,dia semakin benci ke ortu sy,, sebenarnya kita nikah siri untuk apa? kenapa ortu km sikapnya gitu. Sy keceplosan bilang kl ortu ga restui pernikahan kita jd kita dihalangi untuk nikah negara.
Kebencian terhadap ortu sy semakin besar. Penyakit darah tinggi suami sy sering kumat dan sering sakit-sakitan. Kebetulan sy tinggal di tempat mertua selama hamil karena suami ingin anak ini lahir di tempat kelahiran dia. Mertua sy marah dan menyalahkan sy karena anaknya sering sakit sejak nikah dg sy. Pokoknya sejak ortu sy sikapnya gitu terhadap suami sy,,yg menghalangi sy dan dia nikah negara. Suami sering marah dan buat masalah dg orang lain. Bahkan pernah hampir sampai berurusan dgn polisi namun sy yg maju menyelesaikan nya. Otomatis mertua sy semakin marah ke sy karena anaknya seperti ini gara2 ortu sy.
Masalah puncaknya beberapa hari sebelum lahiran kami ribut dan sy ingin pulang ke rumah sy. Namun suami bilang pilih suami atau ortu.. karena bingung dan lihat suami sikapnya gitu sy bilang pilih ortu. Suami pun marah dan bilang akan sy bunuh anak dlm perut itu biar adil sama2 ga punya anak. Karena jika pulang berarti anak itu lahir bukan ditempat kelahiran dia. Akhirnya sy batal pulang karena takut dia benar pukul anak ini. Sy pun melahirkan,sejak awal sy bilang setelah melahirkan sy ingin pulang untuk pemulihan pasca melahirkan.apalgi sy operasi Caesar. Dan di mertua ga ada yg merawat full seperti dirumah ortu sendiri. Suami awalnya ga setuju dan bilang disini jg ada yg rawat yaitu ibunya dia dan pembantu disini. Tapi sy ga mau..suami pun mengiyakan sy pulang tapi saat mau pilih waktu pulang,, suami bilang akan antar sy pulang ke rumah sy yg berada diluar kota. Sy bilang jgn biar nanti ortu sy aja yg jemput karena ortu dr awal niat jemput. Ortu udh beli tiket tgl sekian to suami tetap ingin anter. Sy SMS ibu untuk batalin tiketnya tapi ibu ga mau dan akhirnya ribut lagi. Suami mengalah biarkan sy dijemput ortu karena sy jg ga mau suami Anter karena kasian suami nanti sakit perjalanan jauh. Suami msh dlm keadaan marah bilang saat km pulang urus semua surat untuk nikah negara biar anak punya akte, itu jika km pilih suami maka kembali ke sini lagi bawa surat2 itu,, tapi jika pilih ortu ga usah ke sini lagi. Suami ga mau jemput sy,,dan ingin sy yg ke sana. Diberi wkt 1 bulan. Sy bingung pilih yg mana. Namun blm sampe satu bulan, pihak keluarga suami kompakan suruh sy the end lewat WA dg kata2 yg menyindir,,sy tanya ke suami apa maksudnya itu,,suami diem aja,, suami justru kasih pertanyaan lagi ke sy lewat WA,,pilih suami atau ortu? dan bilang sy harus tegas sbg anak, sy cuma bilang pilih keduanya karena ga bisa sy harus jauhi atau musuhi ortu dan sy jg ga mau pisah suami karena baru nikah dan kasian anak sy. Dia marah. Sy saking keselnya sy keluarkan unek2 sy lewat status di WA,,suami sy baca dan dia ambil keputusan hari itu jg untuk pisah dg sy dan kita jadi teman saja. Dia beralasan bahwa pernikahan ini dr awal tdk direstui oleh ortu sy,,jadi percuma dilanjut karena hidup kami akan berantakan dan ribut aja. Pernikahan tanpa restu tdk membawa bahagia.
Sy tdk terima,,sy minta dia pikirkan ulang. Sy mohon terus akhirnya dia bilang oke sampai akhir bulan, jika ortu sy kasih restu dg tulus ke pernikahan ini terutama restui dia,,lewat buat rekaman yg menunjukkan ortu sy restui pernikahan ini. Maka,, pernikahan kami akan lanjutkan..
Pertanyaan nya sy harus gimana? Jelas sekali ortu sy sampai sekarang msh tdk restui dia jadi menantu. Tapi sy ingin coba bujuk ortu sy. Apakah jalan yg sy tempuh benar dg pertahankan pernikahan ini? Atau sy dan dia cerai saja seperti yg dia bilang tanpa restu ortu pernikahan tdk akan langgeng??
Tolong bantuannya… berikan solusi atas masalah sy ini.
Terimakasih.
Hai kak, makasih ya udah berbagi cerita. Aku bisa merasakan betapa berat situasi yang sedang kamu hadapi, terutama karena harus menghadapi konflik antara pasangan dan keluarga, sementara kamu juga baru saja menjadi ibu. Aku paham bahwa ini bukan situasi yang mudah, dan aku sangat mengapresiasi usahamu untuk mencari solusi terbaik.
Dari cerita kamu, ada beberapa hal yang menjadi pokok permasalahan. Namun sebelum fokus pada permasalahan, aku ingin kamu tidak lupa untuk memperhatikan kesejahteraan diri sendiri dan bayimu. Kamu saat ini masih dalam fase pemulihan pasca melahirkan, pastikan bahwa dirimu dan bayi mendapatkan lingkungan yang aman, nyaman dan supportif. Jika ada ancaman atau kekerasan, baik verbal maupun fisik, penting untuk memprioritaskan perlindungan diri dan anak terlebih dahulu.
Terkait dengan hubunganmu dengan suami, dari ceritamu, suamimu tampak memiliki kesulitan dalam mengelola emosinya, termasuk mudah marah dan tersinggung, serta adanya tekanan dari keluarga besarnya. Pernikahan yang sehat membutuhkan komunikasi yang baik dan saling mendukung. Jika selama ini ada banyak konflik dan tekanan, perlu dievaluasi apakah hubungan ini bisa diperbaiki dengan komunikasi yang lebih terbuka atau perlu bantuan dari pihak ketiga seperti konselor pernikahan.
Kemudian terkait dengan restu orang tua, restu orang tua memang memiliki peran dalam kehidupan rumah tangga, tetapi keputusan utama tetap ada di tanganmu. Jika orang tuamu tidak merestui pernikahan ini karena melihat ketidakstabilan dalam hubungan dan kondisi ekonomi suami, bisa jadi mereka hanya ingin melindungimu. Cobalah berbicara dengan mereka dengan tenang, tanyakan apa yang sebenarnya mereka khawatirkan, dan apakah ada cara untuk mencapai solusi yang lebih baik bagi semua pihak. Selain itu kamu perlu mempertimbangkan terkait masa depan pernikahan. Menikah tidak hanya sekedar restu tetapi juga perlu dilihat bagaimana masa depan hubungan kamu dengan suami kedepannya. Misalpun sudah ada restu, apakah masalah yg dialami sekarang akan selesai? Apakah suami bisa mengubah sikap dan lebih bertanggungjawab? Dan yang paling penting, apakah kamu akan menjadi lebih bahagia dengan adanya pernikahan ini?
Hal hal tersebut perlu kamu pertimbangkan. Coba pikirkan lebih dalam apakah kamu ingin mempertahankan pernikahan karena memang ada harapan atau karena merasa terjebak? Coba jg untuk mendiskusikan ke orang tua. Sampaikan dengan jujur keinginanmu tetapi juga terbuka akan masukan tanpa paksaan. Lalu coba komunikasikan dengan suami terkait dengan hubungan kalian kedepannya. Jika dirasa sulit, kamu bisa melibatkan pihak ketiga utk mediasi seperti misalnya mengikuti konseling pasangan. Keputusan ini sepenuhnya ada di tanganmu, dan apapun yang kamu pilih, pastikan itu adalah keputusan yang membuatmu merasa lebih damai dan tidak membahayakan dirimu maupun anakmu.
Tetap kuat yaa, aku tau kamu pasti bisa melewati ini 💙
-Tim Tanya Konselor-