aku seorang wanita yang gagal dalam membangun rumah tanggal, 3 tahun pernikahan kandas berakhir dengan selingkuhi dengan rekan kerjanya. aku wanita yang sedari kecil tumbuh menjadi pribadi yang keras kepala dan emosional. disaat orang mampu menceritakan kenangan masa kecilnya dengan baik, aku hanya mampu mengingat sedikit kenangan dari masa kecilku, itupun hanya kenangan buruk, tentang bagaimana aku dibandingkan, di abaikan, dimarahin dipukul, saat kecil jika menangis akan semakin dimarah, aku paling ingat jika menangis aku akan bersembunyi di dalam lemari atau ke sudut kamar yang gelap. setelah gagalnya pernikahanku, aku sempat kembali menjalin hubungan dengan beberapa orang pria. perlakuankuanku pada beberapa pria awal sangat baik, aku sangat percaya mereka, bahkan beberapa kali terbukti aku dibohongi aku tetap bisa percaya, mulai dari mereka mendekati wanita lain di belakangnku dan aku yang ternyata di jadikan selingkuhan. namun di pria terakhir aku berubah, aku tak bisa lagi percaya. pria ini orang yang mudah menangis menurutku, dia orang yang sangat terjebak akan masa lalunya, dia orang yang sangat ingin kembali ke masa lalu dan memperbaiki semuanya, dalam hubungan ini kadang aku berpikir \\\”jika dia sangat ingin kembali ke masa lalu bagaimana dengan aku? \\\” dia berjanji untuk tidak seperti mantan suamiku, dia bilng tidak akan membohongiku, namun dia selalu mengingkari kalimatnya, dia berbohong dengan deskripsi kecil, memang, aku selalu tidak percaya padanya, dan kutunjukkan itu dengan terang terangan, kadang aku langsung bertanya padanya, aku melihat dan menyatukan semua sosmednya. sekarang aku dan dia sudah putus, dia berbohong dengan berjanji padaku, kubilng bahwa dia menyepelekan perasaanku. sebelum berakhir dia ingin bebas, tidak ingin di kekang dan dikontrol. bagi dia semua perlakuanku begitu santainya. aku orang yang meledak ledak saat marah, sedang dia selalu diam dan pergi tanpa kecuali kata pun. aku tau jika aku dengan dia ga akan berhasil dalam hubungan ini. beberapa jam lalu dia mengajakku untuk kembali menjalin hubungan aku ragu apa bisa aku yang seperti ini dan dia yang seperti itu bersama. dia orang dengan gangguan mental, sedang aku tak mungkin tak ada apa-apa. pola hubunganku selalu sama, disertai dengan sikapnya yang membuatku takut semua kejadian buruk itu terulang
Halo, terima kasih sudah menuliskan cerita ini dengan sangat terbuka. Dari yang kamu ceritakan terlihat bahwa kamu sudah melewati banyak pengalaman yang menyakitkan—mulai dari masa kecil yang penuh tekanan sampai pengalaman dikhianati dalam hubungan. Wajar jika semua pengalaman itu membuatmu menjadi sulit percaya dan mudah bereaksi kuat ketika merasa disakiti. Reaksi seperti marah, curiga, atau ingin mengontrol sering muncul sebagai cara seseorang melindungi dirinya dari luka yang sama terulang.
Hal yang penting untuk kamu sadari adalah bahwa pola hubungan yang terus berulang biasanya tidak muncul begitu saja. Pengalaman masa kecil yang penuh perbandingan, kemarahan, atau rasa diabaikan sering membuat seseorang tumbuh dengan rasa takut ditinggalkan atau dikhianati. Ketika masuk ke hubungan dewasa, rasa takut itu bisa muncul dalam bentuk kebutuhan untuk memastikan pasangan tidak berbohong atau tidak pergi. Sayangnya, pola itu justru sering membuat hubungan menjadi semakin tegang.
Tentang mantan pasanganmu yang ingin kembali, keraguan yang kamu rasakan adalah sesuatu yang sangat wajar. Hubungan yang sehat membutuhkan dua hal penting: kejujuran yang konsisten dan rasa aman secara emosional. Jika sebelumnya sudah sering terjadi kebohongan kecil dan pola saling melukai, kembali ke hubungan yang sama tanpa perubahan yang nyata sering hanya membuat luka lama muncul lagi.
Hal yang paling penting saat ini bukan terburu-buru memutuskan kembali atau tidak, tetapi memberi ruang untuk dirimu sendiri pulih dan memahami dirimu lebih dalam. Mengolah luka masa kecil, belajar mengenali emosi saat marah, dan memahami kebutuhan emosionalmu akan sangat membantu agar pola hubungan yang sama tidak terus terulang. Banyak orang baru bisa membangun hubungan yang lebih sehat setelah mereka lebih dulu memahami dan merawat dirinya sendiri.
Kamu bukan orang yang “rusak” atau “tidak mampu mencintai”. Kamu adalah seseorang yang pernah terluka dan sedang mencoba melindungi dirinya. Dengan waktu, refleksi diri, dan dukungan yang tepat, pola hubungan yang lebih sehat tetap sangat mungkin dibangun di masa depan.
Terima kasih sudah berani menceritakan hal ini. Mengakui luka dan kebingungan seperti yang kamu lakukan adalah langkah awal yang sangat penting menuju perubahan.
Salam Hangat,
Tim Tanya Konselor