Dijodohkan ortu

Yuki asked 5 years ago . Client detail : female, 25-30 y.o

Saya dijodohkan dg sodara saya. Tapi setelah saya tempo satu bulan dan mencoba pendekatan satu sama lain tetap belum ada perasaan. Dan saya memyukai orang lain. Tetapi saya tdk punya pilihan untuk menolak demi nama baik keluarga saya. Saya cukup tertekan dan masih berhubungan dekat dg orang yg saya suka dan tetap mencoba pendekatan dg orang yg dijodohkan dg saya. Saya harus bagaimana?

1 Answers
Firyana Nabilah Staff answered 5 years ago

Halo, Yuki! Terima kasih karena sudah memilih platform ini untuk berbagi ceritamu dengan kami. Sebelumnya, saya ingin menyampaikan kekaguman saya kepadamu karena begitu menyayangi orangtua dan menghormati keluarga besar, bahkan di saat sebenarnya kamu merasa kurang sepaham. Kamu hebat, tidak semua orang bisa bersikap demikian lho!
Perjodohan mungkin terdengar kurang nyaman ya di era sekarang. Namun di sisi lain, mungkin beberapa orangtua merasa sedih jika anaknya tidak segera menikah atau sudah memiliki calon namun tidak sesuai dengan kriteria mereka. Yakinlah bahwa iktikad mereka sebenarnya baik, hanya ingin membantu putri tercinta bertemu dengan jodoh yang tepat. Tapi, bagaimanapun juga, keputusan akhir tetap ada di tanganmu.
Jika saya boleh bantu simpulkan, saat ini sebetulnya kamu sedang dibingungkan dengan dua pilihan ya, antara menerima saran perjodohan orangtua atau memutuskan bersama dengan orang yang kamu sukai. Apakah kamu sudah pernah mencoba membicarkan permasalahan ini dengan orangtua?
Keputusan yang baik jika kamu memilih untuk menerima perjodohan orangtua. Namun, tolong jangan putuskan dengan tergesa-gesa ya! Pastikan terlebih dahulu jika kamu sudah yakin dan mengenal orang yang dijodohkan denganmu. Bagi beberapa orang, satu bulan adalah waktu yang cukup untuk saling mengenal. Namun sebagian lainnya mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama. Nah, bisa jadi sebenarnya kamu bukan tidak cocok dengannya, tapi kamu hanya membutuhkan waktu yang lebih lama lagi untuk akhirnya bisa yakin memilihnya. Tapi pastikan juga ya jika orang tersebut sudah siap dan memiliki keyakinan yang sama. Komitmen dan tanggung jawab adalah hal utama dalam sebuah pernikahan yang membutuhkan ketersalingan dari kedua belah pihak. Oleh karena itu, saya harap kamu tidak mengambil keputusan ini karena sekadar memenuhi kehendak orangtua padahal kamu masih penuh keraguan.
Jika kamu memilih opsi kedua, yaitu berniat memulai hubungan dengan orang yang kamu sukai, itu juga merupakan keputusan yang baik kok! Memiliki keputusan yang berbeda dengan orangtua bukan berarti kamu anak yang egois, durhaka, atau mempermalukan keluarga. Kebahagiaanmu itu valid dan layak diperjuangkan sebab kamu sendiri juga lah yang nanti akan menjalani pernikahan itu. Mungkin pertama-tama, kamu bisa mengutarakan dan mendiskusikan permasalahan ini secara jujur dan terbuka dengan orang yang kamu sukai. Jika ia memiliki komitmen dan kecocokan denganmu, mulailah lakukan pendekatan dan diskusi dengan orangtuamu. Kamu bisa mengawali diskusi mulai dari yang paling dekat denganmu, apakah itu ayah atau ibu. Jika kamu masih kesulitan dalam menyampaikan, kamu bisa menulis di surat atau meminta bantuan kerabat dekatmu yang bisa kamu percaya. Komunikasikan dengan baik dan lembut ya, jangan sampai ada paksaan dari pihak manapun karena pernikahan sebetulnya bukan hanya tentang hubungan dua orang namun juga menyatukan kedua keluarga. Dengan adanya restu dari orangtua, diharapkan pondasi pernikahan dapat dibangun dengan lebih kokoh. Jika penyampaian sudah dilakukan dengan baik, tidak memaksa, tanpa kekerasan baik fisik maupun verbal, serta penuh kesabaran, berbicara dari hati ke hati, semoga orangtua dan keluarga besarmu bisa mengerti ya! Saya yakin, orangtuamu dan kamu sama-sama memiliki iktikad yang baik dalam hal ini.
Namun, jika ternyata dari kedua pilihan di atas tidak ada yang membuatmu yakin, maka tidak masalah jika akhirnya kamu tidak memilih semuanya. Itu juga baik dan tidak salah kok! Kamu tidak perlu terburu-buru untuk memutuskan menikah sebab pernikahan bukanlah tentang kompetisi siapa yang lebih dulu atau siapa yang tertinggal. Menikah juga bukan satu-satunya cara untuk membuat orangtua bangga dan bahagia lho! Cobalah sampaikan dengan baik kepada pihak terkait mengenai keraguan dan alasan ketidaksiapanmu. Menikahlah ketika kamu dan pasangan sudah benar-benar siap dan yakin, baik secara fisik maupun mental. Saya rasa, komunikasi yang baik adalah kunci dari permasalahan ini. Selain itu, jangan lupa juga untuk tetap berdoa kepada Tuhan dan meminta pertolongan dari-Nya ya agar selalu diberi petunjuk untuk mengambil keputusan yang tepat.
Semoga jawaban dari Tim Tanya Konselor bisa membantu mengatasi kebingunganmu ya, Yuki! Silakan kembali bercerita di sini jika masih ada yang mengganjal dan ingin dibagikan, kami siap mendengarkan dan membantu dengan senang hati. Doa terbaik dari kami mengirimu dan keluarga!J
Salam bahagia dari kami Tim Peduli Remaja Indonesia