Bimbang

BAYU AJI SETYO PRABOWO asked 7 years ago . Client detail : , y.o

Halo kak, sedikit panjang mungkin yak. Saya dari keluarga broken home sejak usia 3 th. Ayah udah nikah lagi, ibu nikah lagi waktu saya kelas 1 sd. Tapi saat kelas 5 sd, ayah tiri saya meninggal. Singkat cerita kelas 1 sma, ibu nikah lagi. Dari pernikahan kedua dan ketiga, masing2 memiliki 1 orang anak. Ayah juga sudah memiliki 2 orang anak dari istri barunya. 
Sejak mereka bercerai, saya seperti sendirian. Kenapa saya bilang begitu, karena ibu saya lebih peduli dengan adik saya, semua hal selalu adik saya terlebih dahulu. Tidak peduli bagaimana keadaan saya waktu itu. Beruntung masih ada kakek nenek yang peduli. Saya pun bisa dibilang tidak memiliki kenangan manis masa kecil dengan orang tua ataupun teman sebaya waktu itu. Karena setiap saya pergi main, pasti selalu disuruh pulang. Ibu lebih banyak menghabiskan waktu bersama calon ayah tiri saya bersama adik saya, sementara ayah saya, tidak peduli sama sekali. 
Kita skip aja, langsung lanjut ke masa2 sma saja. 
Bisa dibilang waktu itu saya mulai bandel dan sering ga pulang. Karena saya mulai merasa apapun yang saya lakukan, pasti akan selalu salah dimata ibu saya. Saya hanya pulang saat nenek mulai menanyakan saya atau perlu pakaian ganti. Puncaknya waktu itu udah lulus sma, waktu itu ada tawaran kuliah dari salah satu PTN di surabaya, namun ibu melarang dengan alasan akan dikuliahkan di salah satu sekolah pelayaran yang dimana adik dari ayah tiri saya yang kedua bekerja disitu. Okelah saya iyain saja waktu itu. Namun saya tunggu2 ternyata hanyalah basa basi saja. Sampai akhirnya saja bilang ingin kuliah di salah satu PTS di jogja, mereka mengijinkan. Namun setelah melewati serangkaian tes, mereka tiba2 tidak mengijinkan saya tanpa memberikan alasan. Namun berbeda dengan adik saya, ditahun selanjutnya, ketika adik saya minta kuliah, langsung di iyakan. 
Hingga pada akhirnya saya memilih bekerja untuk melupakan kekecewaan saya dan saya bertemu dengan teman sma dulu. Dia orang yang saya sukai waktu itu. Hingga akhirnya kita memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan sampai sekarang. 
Problem nya adalah :
1. Saya tipe orang yang tidak tega an
“selama saya bekerja, saya selalu ingin memberikan yang terbaik bagi orang2 di dekat saya, namun ibu saya tipe orang yang boros karena berapa pun saya kasih, pasti selalu kurang. Kalaupun saya lagi tidak bisa ngasih, pasti dengan berbagai alasan yang pada akhirnya bikin saya ga tega”
2. Pacar
Dia, seorang dosen yang tahun ini akan melanjutkan s2, berasal dari keluarga utuh, anak dari seorang karyawan perusahaan besar dengan posisi manager dan orang kepercayaan direktur utama. Basicly, orangnya baik, tapi disaat dia ingin sesuatu, pasti saya ga bisa menolak. Kalaupun saya bilang lagi ga ada, selalu ada rasa bersalah berkepanjangan dalam diri saya dan akhirnya saya turuti permintannya. 1 hal yang belum saya wujudkan, yaitu saya harus kuliah, dia selalu merasa malu dengan keadaan saya namun kami tidak ingin saling melepaskan, meskipun selalu berujung dengan pertengkaran. Ya meskipun dari kedua orang tuanya tidak ada masalah dengan keadaan saya. 
Saya harus gimana?

1 Answers
diana caesaria Staff answered 7 years ago

Hai Bayu, 
Pengalaman masa lalu merupakan bagian dari dirimu di masa sekarang. Saya senang kamu bisa mengungkapkannya. Yang kamu rasakan di masa lalu, saya bisa merasakannya juga. Kamu harus “aware” secara sadar dapat “acceptance” menerima bahwa masa lalu telah membentuk dirimu yang kini. Maafkanlah yg telah berlalu. Maafkan mereka. Dan terlebih lagi, maafkan dirimu sendiri. Kamu hidup di masa sekarang untuk dirimu di masa mendatang. Memaafkan itu mudah. Proses “healing” itu lain hal. Untuk memulai proses healing, hempaskan bimbang. Cara praktisnya? Hiduplah untuk DIRIMU SENDIRI. Sebelum mencukupkan orang lain, cukupkanlah dirimu sendiri. Buat segala sesuatunya sesederhana mungkin. Ingin kuliah? Ya, kuliah. Ingin kasih uang? Kalau ada, ya kasih. Ada yang minta uang, tapi kita lagi gak ada uang? Ya gak perlu kasih. Merumitkan hal yg tidak perlu akan menguras tenaga dan pikiranmu. Memulai sesuatu dg terbiasa living simple, akan membantumu dalam setiap pengambilan keputusan. Saya paham, ini bisa jadi sulit pada beberapa orang, mengingat kehidupan masa lalunya yang rumit sehingga terbawa mempengaruhi kehidupan yg sekarang. Kamu ga tegaan karena kejadian masa lalu menempatkanmu terlalu empati dan org lain jadi menyalahgunakannya. Tapi kamu bisa LAWAN dan entah kenapa saya yakin, kamu bisa! Dulu rumit, sekarang sederhanakan. Dulu ingin kuliah, sekarang wujudkan. Lakukan yang terbaik untuk dirimu sendiri terlebih dulu. Cukupkan dirimu terlebih dulu. Isi gelas kosongmu dulu sampai penuh.
 
Take home message buat kamu: biasakan simple. Itu akan membantu.
Semoga bermanfaat.