http://Saya tidak tau harus mulai darimana, saya hanya merasa saya ingin mati. Kenapa tuhan memberikanku hidup seperti, saya hidup tapi tidak di inginkan. Dilahirkan oleh keluarga yang saya rasa sangat mampu untuk memberikan saya hidup yang baik malah menghancurkan saya, bukan secara fisik tapi secara batin. Saya selalu dipojokkan oleh ayah saya sendiri, dia sangat ingin saya selalu berada dibawah yang dimana saya tidak dapat melakukan hal yang ingin saya lakukan, berharap saya akan hidup dengan keadaan sangat menyedihkan, berharap saya hidup tidak berdaya. Lalu untuk apa dia memberikan saya kehidupan, yang seharusnya dia sebagai figur seorang ayah akan mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap anak perempuan satu-satunya yang akan di nafkahi. Dia lebih ingin menafkahi orang lain dibandingkan saya, apa salah saya sehingga tuhan memberikan saya hidup yang sangat mengerikan ini. Saya berharap dia mati, apa saya salah mengatakan hal ini? Saya hidup 21 tahun di dunia tapi saya tak pernah merasakan rasanya disayang oleh seorang ayah. Saya akan mengerti jika dia memang tidak mampu untuk menafkahi saya sebagai anak, tapi keadaan membenarkan dia mampu untuk menafkahi saya anaknya sendiri. Pantas saja ibu saya sangat ingin mati waktu itu, saya tau alasannya sekarang. Dan saya berdoa bahwa ayah saya mati dan menyusulnya sehingga ibu saya dapat membalas apa yang telah ayah saya lakukan terhadapnya.
Hai Ade Irma, apa kabar? Semoga kamu dalam keadaan baik ya🙂 Terimakasih sudah menjadikan kami teman berbagimu, semoga kamu lebih lega setelah berbagi dengan kami. Boleh kami bertanya dahulu? Sebelumnya apakah kamu pernah mengalami hal-hal yang membuat kamu tidak menyukai ayahmu di masa lampau? Apakah hal itu masih membayangi dirimu hingga saat ini? Kadang tanpa kita sadari kita bisa jadi membenci/tidak menyukai sesuatu dipengaruhi oleh kejadian masa lampau yang belum bisa kita terima dalam diri. Kita perlu mengetahaui dulu apakah perasaan yang muncul sekarang terjadi hanya karena situasi saat ini atau berakumulasi dipengaruhi oleh peristiwa masa lampau. Tentunya untuk menyelesaikan sebuah masalah kita memerlukan komunikasi dengan pihak terkait. Tapi sebelum melakukan itu, kita harus melakukan penerimaan diri dulu nih. Kita perlu menerima apa yang terjadi di masa lampau dan menjadikannya sebuah pelajaran berharga, tidak perlu menyangkal tentang perasaan kita itu tapi kita harus terima dan terbuka untuk berubah. Terdengar gampang sekali ya? Memang penerimaan diri membutuhkan waktu yang cukup dan setiap orang memiliki perbedaan proses di dalamnya, tapi percayalah selagi kita berusaha akan ada hasil setelahnya. Ketika kita sudah berhasil nemerima dan berdamai dengan diri tentang apa yang dialami, barulah kita bisa memulai komunikasi. Kamu juga bisa meminta untuk didampingi orang yang kamu percaya selama proses penerimaan dirimu agar kamu dapat tetap terarahdan mendapat masukan saran. Jika dirimu sudah tenang dan lebih stabil perasaannya, kamu bisa mulai untuk berbicara dengan ayahmu mengenai hal-hal yang kamu rasakan dan bertanya alasannya kepada ayahmu. Bisa jadi kamu menemukan perspektif baru setelah berbincang kan. Semoga kamu dapat menyelesaikan yang terjadi dan berbahagia, karena setiap manusia memiliki hak untuk bahagia sekecil apapun itu. Semangat🤗
-Tim Tanya Konselor-