Kenapa sih kita harus bertahan?

Tanya KonselorCategory: PsikologiKenapa sih kita harus bertahan?
sinyo nano asked 8 months ago . Client detail : female, 19-24 y.o

Masa lalu ku runyam banget. Aku pingin bgt cerita tentang ini ke seseorang, tapi aku ngga bisa. Apakah dengan bercerita mengenai problem ku berarti aku membuka aib ku sendiri? Pertanyaan seperti itu selalu berukang-ulang sampai membuat aku menahan diri untuk pergi ke psikolog. Aku sebenarnya pingin cerita tentang masalah ku, semua nya. Taoi aku bingung harus muali dari mana karena masalah ku udah sebanyak itu. Aku pingin berdamai dengan masa lalu ku. Tapi apakah itu mungkin? Apakah mungkin buatku untuk bisa memaafkan masa lalu ku? Tapi sebenarnya siapa yang harus dimaafkan? Dan siapa yang salah? Aku sewaktu kecil masih ngga paham apa-apa. Dan apakah itu berarti semua kerunyaman masa lalu ku disebabkan oleh orang tua ku yang kurang memberi perhatian?
Dari kita bertiga – aku, kakak ku, dan adik ku – hanya aku yang sedari kecil udah jauh dari orang tua. Dulu waktu adik ku pertama kali lahir, aku dititipkan ke kakek nenek ku. Bahkan kalau di rumah pun yang mengurus aku adalah babysitter. Masuk usia PAUD sampai TK, aku dititipin ke tempat penitipan anak. Waktu aku kelas satu sampai dua, aku dititipin ke pak satpam. Iya, pak satpam sekolah. Karena kebetualan selisih selesai waktu KBM anatar sekolah ku dan sekolah kakak ku cukup jauh yaitu 2 jam, jadi bapakku beralasan untuk menitipkan aku ke pak satpam. Untung nya sekolah kita masih satu yayasan dan pak satoam nya orang yang sangat baik. Tapi aneh ga sih?! Padahal waktu zaman nya adik ku yang kelas satu dan dua, dia ngga dititipin tuh ke pak satpam. Dia langsung dijemput saat itu juga. Kan aneh ya… 
Tapi aku juga ngga bisa menyalahkan beliau berdua karena this is their first time being a parent. Nah terus salah siapa? Dan siapa yang harus aku maafkan?
Kalau masa lalu kita aja serunyam itu, emang ada yang mau menerima kita di masa depan? Terus ngapain kita harus bertahan? Apakah ada jaminan kalau di masa depan aku akan bahagia? Padhal ini aku baru bicara mengenai masalah diri ku sendiri, belum bicara mengenai masalah ku dengan lingkungan ku. Hahaha cape banget. Cuma buat mengingat kejadian-kejadian yang lernah terjadi aja udah membuatku cape.
Orang-orang sebenarnya peduli dengan masa lalu kita ngga sih? Apakah mereka akan memaafkan aku? Apakah mereka mau menerima aku lagi? Apakah mereka mau berteman dengan aku lagi?
Kalau misal aku pindah negara dan mengganti identitas ku, apakah aku akan selamat dari judge orang-orang? Aku anxious banget.