Masa lalu ku runyam banget. Aku pingin bgt cerita tentang ini ke seseorang, tapi aku ngga bisa. Apakah dengan bercerita mengenai problem ku berarti aku membuka aib ku sendiri? Pertanyaan seperti itu selalu berukang-ulang sampai membuat aku menahan diri untuk pergi ke psikolog. Aku sebenarnya pingin cerita tentang masalah ku, semua nya. Taoi aku bingung harus muali dari mana karena masalah ku udah sebanyak itu. Aku pingin berdamai dengan masa lalu ku. Tapi apakah itu mungkin? Apakah mungkin buatku untuk bisa memaafkan masa lalu ku? Tapi sebenarnya siapa yang harus dimaafkan? Dan siapa yang salah? Aku sewaktu kecil masih ngga paham apa-apa. Dan apakah itu berarti semua kerunyaman masa lalu ku disebabkan oleh orang tua ku yang kurang memberi perhatian?
Dari kita bertiga – aku, kakak ku, dan adik ku – hanya aku yang sedari kecil udah jauh dari orang tua. Dulu waktu adik ku pertama kali lahir, aku dititipkan ke kakek nenek ku. Bahkan kalau di rumah pun yang mengurus aku adalah babysitter. Masuk usia PAUD sampai TK, aku dititipin ke tempat penitipan anak. Waktu aku kelas satu sampai dua, aku dititipin ke pak satpam. Iya, pak satpam sekolah. Karena kebetualan selisih selesai waktu KBM anatar sekolah ku dan sekolah kakak ku cukup jauh yaitu 2 jam, jadi bapakku beralasan untuk menitipkan aku ke pak satpam. Untung nya sekolah kita masih satu yayasan dan pak satoam nya orang yang sangat baik. Tapi aneh ga sih?! Padahal waktu zaman nya adik ku yang kelas satu dan dua, dia ngga dititipin tuh ke pak satpam. Dia langsung dijemput saat itu juga. Kan aneh ya…
Tapi aku juga ngga bisa menyalahkan beliau berdua karena this is their first time being a parent. Nah terus salah siapa? Dan siapa yang harus aku maafkan?
Kalau masa lalu kita aja serunyam itu, emang ada yang mau menerima kita di masa depan? Terus ngapain kita harus bertahan? Apakah ada jaminan kalau di masa depan aku akan bahagia? Padhal ini aku baru bicara mengenai masalah diri ku sendiri, belum bicara mengenai masalah ku dengan lingkungan ku. Hahaha cape banget. Cuma buat mengingat kejadian-kejadian yang lernah terjadi aja udah membuatku cape.
Orang-orang sebenarnya peduli dengan masa lalu kita ngga sih? Apakah mereka akan memaafkan aku? Apakah mereka mau menerima aku lagi? Apakah mereka mau berteman dengan aku lagi?
Kalau misal aku pindah negara dan mengganti identitas ku, apakah aku akan selamat dari judge orang-orang? Aku anxious banget.
Terima kasih telah menghubuni kami. Saya benar-benar bisa merasakan betapa berat dan penuh keraguan yang kamu rasakan saat ini. Mengungkapkan masa lalu yang penuh dengan kerumitan, rasa sakit, dan ketidakpastian memang bukanlah hal yang mudah. Pertanyaan-pertanyaan yang terus menghantui, seperti siapa yang harus dimaafkan, apakah berbicara tentang masalah ini akan membuka aib, dan bagaimana menghadapi masa depan yang penuh kecemasan, semuanya adalah refleksi dari perasaan yang sangat manusiawi. Kamu merasa bingung, cemas, dan terperangkap dalam banyak hal yang sulit dimengerti. Saya ingin mengingatkanmu bahwa perasaan ini sangat valid, dan tidak ada yang salah dengan merasakannya. Ini adalah bagian dari perjalanan emosional yang memang penuh tantangan, dan kamu tidak sendirian dalam hal ini.
Mengenai pertanyaan tentang apakah bercerita berarti membuka aib, saya ingin memberi pemahaman bahwa berbicara tentang masalah dan perasaan yang kita pendam bukan berarti kita membuka aib diri kita. Seringkali kita takut untuk bercerita karena khawatir dianggap lemah atau buruk. Padahal, berbicara bukanlah tentang memperlihatkan kelemahan, melainkan tentang melepaskan beban emosional yang kita bawa selama ini dan mencari pemahaman. Mengungkapkan perasaan itu bisa menjadi langkah pertama menuju penyembuhan. Karena jika kita terus menahan perasaan, itu justru akan semakin memperburuk keadaan dan membebani pikiran kita lebih dalam.
Memaafkan masa lalu memang tidak pernah mudah, terutama jika rasa sakit yang terpendam begitu dalam. Ketika kamu bertanya-tanya apakah kamu bisa memaafkan masa lalumu, saya ingin menegaskan bahwa memaafkan bukan berarti melupakan atau membenarkan apa yang terjadi. Memaafkan adalah tentang membebaskan dirimu dari beban emosional yang menahanmu untuk melanjutkan hidup dengan hati yang lebih ringan. Mengenai siapa yang harus dimaafkan, ini adalah perjalanan pribadi yang perlu kamu temukan jawabannya. Terkadang, kita harus memaafkan orang lain, tetapi yang lebih penting lagi adalah memaafkan diri kita sendiri. Hanya dengan memaafkan diri kita, kita bisa membuka jalan untuk healing yang lebih mendalam dan memperbaiki hubungan dengan diri kita sendiri.
Terkait pertanyaan apakah masa lalu kita disebabkan oleh orang tua, ini memang sebuah pertanyaan yang kompleks. Orang tua sering kali berusaha melakukan yang terbaik dengan kemampuan mereka, namun itu tidak selalu berarti mereka bisa memenuhi semua kebutuhan emosional kita. Kamu merasa jauh dari orang tua, dan itu bisa menjadi perasaan yang sangat membingungkan serta menyakitkan. Namun, kadang-kadang orang tua tidak menyadari dampak dari keputusan mereka terhadap kita. Bukan berarti mereka tidak peduli, melainkan mereka juga sedang berusaha belajar dan menyesuaikan diri dengan peran mereka sebagai orang tua. Ini bisa menjadi kesempatan untuk membuka ruang komunikasi yang lebih sehat antara kamu dan orang tuamu, jika itu memungkinkan.
Mengenai pertanyaan besar lainnya, apakah ada yang akan menerima kamu di masa depan, saya ingin mengingatkanmu bahwa setiap dari kita memiliki masa lalu yang penuh tantangan. Namun, masa lalu bukanlah sesuatu yang harus menghalangi kita untuk terus maju. Kita tidak bisa mengontrol bagaimana orang lain memandang kita, tetapi kita bisa mengontrol bagaimana kita memandang diri kita sendiri. Penerimaan diri adalah kunci utama untuk menjalani hidup dengan lebih tenang dan terbuka. Masa depan bukanlah tempat yang harus kita takuti—itu adalah tempat di mana kita bisa menciptakan peluang baru, belajar dari pengalaman yang telah terjadi, dan membangun hidup yang lebih baik. Meskipun tidak ada jaminan kebahagiaan, ada banyak kemungkinan untuk berubah, berkembang, dan menemukan kedamaian jika kita memilih untuk terus melangkah maju, meski dengan ketidakpastian yang ada.
Ditunggu responnya ya semangattt selalu pokoknya
-Tim Tanya Konselor-