i-dont-know

Adila Ristiana asked 4 months ago . Client detail : female, 25-30 y.o

Pertama kali tau kalau ayah saya selingkuh. Sifat ayah saya menjadi sangat berubah beliau menjadi ayah yang tidak saya kenal, dan itu pertama kalinya saya merasa masa indah bersama ayah saya berhenti ketika saya  SD.  Saya sering menyakiti diri saya sendiri ketika saya berkelahi dengan beliau, ayah menjadi orang yang memberikan luka terbesar di hidup saya, dari perasaan kecewa menjadi tidak punya perasaan apa-apa lagi. Perasaan saya terhadap ayah saya benar-benar mati, saya tidak benci dan tidak sayang ke ayah saya saya dan ketika beliau meninggal pun saya tidak merasakan apa-apa, saya tidak sedih dan saya tidak bahagia. Saya sadar di masa-masa terakhir beliau hidup, beliau berubah menjadi ayah yang saya kenal dulu, ayah yang sangat saya sayangi tapi semua sudah terlambat perasaan saya terhadap beliau sudah mati saya tidak merasakan apa-apa ketika beliau melakukan semua itu.  Untuk ayah, jika reinkarnasi itu memang ada aku harap kamu bisa menjadi sosok ayah baik untuk anak mu kelak dan mari kita bertemu sebagai orang asing saja.

1 Answers
Ulfi Mahroja Rizkina Staff answered 4 months ago

tTerimakasih telah bercerita dengan kami. Aku bisa paham betapa berat dan membingungkannya perasaanmu terhadap ayah. Saat kecil, kita biasanya melihat orang tua sebagai figur yang paling aman dan paling bisa diandalkan. Jadi ketika terjadi sesuatu yang besar dan menyakitkan seperti perselingkuhan dan itu mengubah sikap orang tua kita, rasa kecewa dan kehilangan yang muncul itu bisa sangat dalam. Apalagi kalau perubahan itu terjadi saat kamu masih SD, di usia di mana kamu belum cukup punya kemampuan untuk memahami atau memproses semuanya.
Respons kamu yang sempat menyakiti diri sendiri, lalu akhirnya jadi mati rasa terhadap ayah itu bukan tanda kamu jahat atau keras hati. Itu sebenarnya tanda kalau kamu sangat terluka dan sedang berusaha bertahan. Kadang, ketika rasa sayang yang besar berubah jadi luka, tubuh dan hati kita memilih untuk “mati rasa” supaya nggak makin hancur. Dan itu adalah bentuk perlindungan diri.
Saat ayahmu meninggal dan kamu nggak ngerasain apa-apa, itu juga valid. Kesedihan nggak selalu muncul dalam bentuk tangisan. Ada kalanya kesedihan terasa seperti kekosongan atau bahkan nggak terasa sama sekali. Setiap orang punya cara berbeda dalam merespons kehilangan, terutama kalau relasi itu sudah lama rumit.
Tapi ada satu hal yang menyentuh dari ceritamu: kamu masih bisa mendoakan ayahmu dalam kata-kata yang tenang. Itu nunjukin kalau sebenarnya kamu tetap punya hati yang hangat, walaupun pernah sangat terluka. Sekarang, kamu nggak harus memaksa dirimu untuk kembali merasa sayang atau benci. Yang paling penting, kamu kasih ruang buat dirimu sendiri buat memproses, memahami, dan pelan-pelan menyembuhkan luka-luka lama itu.
Kalau suatu saat kamu ngerasa ingin ngobrol lebih dalam, atau ngerasa luka ini masih mengganggu hidupmu sekarang, kamu boleh banget cari psikolog untuk bantu mengurai perasaan-perasaan ini. Kita semua butuh tempat aman untuk cerita, dan kamu layak punya itu.
-Tim Tanya Konselor-