Halo, aku kesini karena belakangan ini merasa nggak ada orang yang bisa aku ajak curhat dengan nyaman. Bukannya nggak ada teman, aku punya teman dekat, tapi entah kenapa setiap ingin bercerita aku merasa tidak nyaman, padahal sebelumnya oke saja. Entah kenapa akhir-akhir ini merasa kesepian, merasa bingung dan bimbang menjalani hidup.
Aku masih ingat beberapa bulan yang lalu aku masih ceria, gembira, selalu berusaha keras, bekerja dengan giat, tapi kenapa ya suasana hatiku jadi down begini dari beberapa minggu ini.
Aku tipe orang yang visioner, selama ini aku menjalani hustle culture, gila kerja, tapi kerja karena memang pasionku, aku sangat suka memotivasi diriku, aku belajar banyak hal untuk mengembangkan diri. Aku suka belajar finansial, aku mulai belajar menata hidup, dan berusaha semaksimal mungkin mempersiapkan diri menuju jenjang kehidupan selanjutnya.
Tahun ini aku umur 23th, aku seorang anak sulung dari 3 bersaudara, adikku yg pertama perempuan dan dia sudah menikah (umurnya 20 th), kebetulan hari ini dia melahirkan, jadi aku sudah sah jadi “tante”.. Adikku yg kedua laki-laki, baru masuk SMP tahun ini. Keluargaku baik-baik saja, dan orang tuaku adalah tipe orang tua yang membiarkan anaknya berkembang. Tidak banyak aturan, dan juga tidak terlalu banyak perhatian.
Mungkin karena pengaruh lingkungan juga, karena teman-teman seusiaku sudah pada menikah, punya anak, dan sedikit membuatku iri. Namun disisi lain aku melihat berbagai realita yang terjadi, masalah dalam menjalani rumah tangga, biaya hidup yang terus naik, kewajiban-kewajiban yang sangat banyak ketika sudah menikah.. Aku merasa takut…
FYI, aku sudah punya pacar, sudah 6 tahun. Semua keluarga sudah merestui hubungan kami, dan kami pun baik-baik saja selama ini, aku meniti karir sejak tamat SMA dan dia pun begitu. Namun karena pandemi, pekerjaannya di pariwisata sangat sulit, bahkan saat ini sudah satu setengah tahun menganggur, semua hasil kerja selama ini dia gunakan untuk biaya hidup.
Pekerjaanku cukup fleksibel karena aku bekerja mandiri menjalankan usaha kecil-kecilan, penghasilan selalu ada dan cukup untuk biaya hidupku yang masih single. Namun, mengingat usia hubungan kami yang sudag 6 tahun, tuntutan dari keluarga untuk segera menikah, tapi pekerjaan calon suami yang tidak stabil, membuatku merasa bingung.. Aku takut..
Kebetulan, setelah satu setengah tahun dia menganggur, bulan ini dia dapat pekerjaan lagi ke luar negri, yang mana mengharuskan kami untuk LDR lagi. Disatu sisi aku senang, dia bisa bekerja lagi, bisa mencari uang untuk kebutuhan masa depan. Disisi lain, ada perasaan tidak rela, takut, dan cemas.
Aku tidak yakin, tapi maaf aku bercerita disini dengan sangat acak, pikiranku sedang tidak baik untuk menjelaskan dengan benar.
Mungkin, aku sedang berada di fase quarter life crisis, fase dimana aku merasa sangat khawatir akan hidup dan masa depan. kadang aku bertanya pada diri sendiri, apakah aku bisa melewati ini?
Apakah aku harus begitu? Apa sebenarnya yang aku inginkan?
Disatu sisi, aku sangat ingin memulai petualangan baru, hidup baru dengan orang yang aku cintai, tapi disisi lain ada masalah-masalah baru mulai bermunculan.. Masalah keluarga, keuangan, mental, dan banyak hal yang entah kenapa masih sangat sulit aku jelaskan disini..
Aku bingung harus berbagi cerita dan beban ini dengan siapa, karena posisiku akan serba salah..
Kalo aku bercerita dengan orang tua, mereka hanya akan merespon seperti “hidup dijalani saja, jangan khawatirkan yang blm terjadi”. Kalo cerita dengan pasangan, dia akan mengatakan “kamu terlalu banyak berfikir, udah jangan terlalu dipikirin”. Kalo cerita dengan teman, dia hanya akan lebih menyetujui apapun yg aku katakan seperti “iya bener tuh, yah mau gimana lagi, iyaa begitulah”.. Entah kenapa aku tidak punya tempat yang nyaman untuk membuang perasaan ini.. jawaban mereka tidak seperti yang aku harapkan dan aku merasa bersalah untuk menceritakan ini..
seperti tidak ada yang sepemikiran denganku, dan tidak ada yang benar-benar ingin tahu bagaimana keadaanku saat ini. Aku tahu, mungkin karena mereka punya kesibukan dan masalah sendiri, tapi dimataku mereka adalah orang-orang yang berharga yang aku sayangi.. Namun disisi lain aku merasa tidak berharga, dan kurang kasih sayang..
Selama ini aku bekerja keras demi mendapat pengakuan, dan tidak menjadi beban orang lain..
Namun disisi lain aku merasa kerja kerasku tidak mendapat apresiasi dan masih saja disepelekan..
Haaahhh….. ada banyak ketakutan yang mulai muncul dalam kepalaku akhir-akhir ini..
Entah, tulisan ini akan ada yang merespon atau tidak, tapi terimakasih telah menyediakan platform curcol seperti ini, jadi sedikit isi kepalaku bisa dikeluarkan..
Halo Santika, bagaimana kabarmu? Semoga sehat selalu yaa. Sebelumnya terima kasih karena sudah percaya kepada kami sebagai tempatmu bercerita.
Sebelum menjawab pertanyaanmu, apa yang membuatmu khawatir kalau kamu dan pasanganmu LDR? Apakah sebelumnya ia pernah melakukan sesuatu yang membuat kepercayaanmu berkurang? Kalau tidak, maka akan lebih baik kalau kamu percayakan ke pasangan kamu ya.
Apalagi, pasanganmu pergi ke luar negeri untuk niat yang baik bukan? Untuk bekerja agar bisa bareng-bareng mewujudkan mimpi-mimpi bersama di masa depan. Terlebih lagi kalau pekerjaan ini adalah pekerjaan yang sesuai dengan passion pacarmu. Wah kalian akan sama-sama berada di zona yang menyenangkan dan positif karena keduanya melakukan pekerjaan yang sudah sesuai passion. Mungkin juga bekerja di luar negeri adalah salah satu kotak kecil impiannya yang selama ini ingin dia lakukan. Dia ingin merasa agar bisa berkontribusi untuk bareng-bareng mewujudkan mimpi-mimpi dia secara pribadi dan mimpi bersama yang kalian bangun dari dulu, seperti menikah.
Memang umur 20an terkadang ada saja orang yang mengomentari hidup kita seperti “kapan menikah?”, “kok pacaran mulu lama banget”. Kalau memang kamu dan pasanganmu masih ingin fokus kepada karir dan pengembangan diri, kenapa tidak? Bukannya lebih baik kalau menikah dalam keadaan siap secara mental, fisik, ataupun ekonomi. Selain beberapa hal tersebut ada juga hal yang penting sebelum memutuskan untuk menikah. Apakah kalian sudah siap membahagiakan diri sendiri, baik ketika sebelum menikah maupun setelah menikah? Seringkali pikiran kita terfokus pada hal-hal atau upaya-upaya untuk membahagiakan orang lain, yang tanpa sadar kita sering tidak mengindahkan kebahagiaan kecil hakiki kita. Menikah bukanlah sebuah tujuan untuk mencapai kebahagiaan manusia, menikah adalah proses yang dilalui manusia untuk mencapai tujuan hidup. Tujuan hidup inilah yang sering kita sebut “Kebahagiaan”.
Sebagai contoh, teman kuliahku banyak yang selama pandemi ini memutuskan untuk menikah. Mungkin memang itu takdir yang sudah digariskan untuk mereka. Mereka sudah bertemu jodoh yang tepat dan kembali lagi, mereka sudah siap. Di sisi lain, aku sudah bersama sama pacarku beberapa tahun, cukup lama, dari sejak sma sampai semester 6. Tetapi kita belum ada pikiran untuk mengarah yang lebih serius. Kami sepakat untuk sama-sama harus menuntut ilmu dan memaksimalkan diri kita selagi bisa.
Untuk mengurangi rasa resah dan ketakutanmu, mulailah jalani hari untuk menempatkan dirimu sebagai standar kebahagiaan. Standar kebahagiaan yang baik tidak dibuat oleh manusia lain, melainkan oleh kita sendiri. Misal, orang lain lebih suka buah apel, tapi aku lebih suka buah melon. Ketika kita punya kesempatan untuk memilih salah satu dari apel dan melon, kita tidak perlu memaksakan diri untuk memilih apel yang tidak begitu kita suka. Meskipun ketika kita melihat orang lain makan apel, mereka terlihat sangat lahap dan bahagia. Coba alihkan fokus kita ke melon yang sudah ada di tangan kita. Betapa bersyukurnya kita mempunyai buah melon yang segar dan lezat, betapa hebatnya buah melon ini karena banyak kandungan vitamin yang akan bermanfaat bagi tubuh kita, betapa bahagianya ketika kita mulai makan melon ini pada gigitan pertama dan rasa manisnya memenuhi indera pengecap kita.
Deskripsi betapa bahagianya kita makan melon di atas adalah gambaran orang lain yang sedang memegang apel tapi dia lebih memfokuskan diri untuk melihat bagaimana kita bahagia dengan pilihan kita.
Jadi, kamu tidak perlu berkecil hati dan merasa tidak percaya diri ya. Tetap jalani hari-harimu dengan rasa syukur, bahagia, dan optimisme. Semua orang punya porsi kebahagiaannya masing masing 🙂
Semangat!
Salam sayang,
Tim Peduli Remaja Indonesia 💖 💖