Aku cewe 21th. Mau tanya dong. Aku udah pacaran sama cowokku mau 2th, kita LDR surabaya – salatiga. Tahun ini katanya mau di lamar. Nah ceritanya gini, di awal udah komitmen kalo nanti sesuai permintaanku, ngga tinggal sama ortuku ato ortu dia.
Tapi ternyata selama ini dia bohong. Gamau kos dan maunya tinggal sama ortu dia. Aku tanya kenapa? Dia bilang ga tega ninggalin ortu dan pengen bahagiain ortunya. Aku bilang ke dia “ortu kamu nanti itu ada 2, jadi jangan egois dan pikirin aku juga. Aku juga ga pengen ninggalin ortu aku dan pengen bahagiain mereka. Kamu tolong pikirin aku juga. Toh nanti kita jenguk ortu kamu. Atoga sabtu minggu bisa nginep di rumah ortu kamu”
Tapi tetep omonganku diabaiin. Dan dia malah bilang kalo nggabisa kita putus aja.
Pertanyaannya:
1. Dia itu anak mama banget. Semua omongan ibunya diturutin. Misal aku pengen dia ke surabaya tapi ibunya ga bolehin, ya dia nurut ibunya
2. Aku lanjut apa udahan aja sama hubungan kaya gini? Karna dari awal aku udah rencanain kalo nikah maunya pisah dari ortu atau mertua biar bisa mandiri, dan biar kehidupan rumah tangga aku nantinya ngga ada yang tau gimana2nya
3. Aku harus gimana? Aku takut nanti misal ada perselisihan sama ibunya dia lebih bela ibunya, ya meskipun dia udah bilang cari jalan tengah kalo misal aku sama ibunya nanti ada perselisihan. Aku agak susah percaya lagi sama dia soalnya udah banyak bohongnya
Aku 21 dan dia 26th, aku udah kerja sedangkan dia masih kuliah dan katanya nunggu pengumuman lulus.
Terima kasih untuk responnya 😊
Halo kak,
terima kasih sudah cerita dengan jujur. Aku paham banget kenapa kamu jadi bingung dan mulai ragu sama hubungan ini. Dari cerita kamu, sebenarnya yang bikin berat bukan cuma soal tinggal sama mertua atau tidak, tapi karena kamu merasa ada komitmen yang berubah di tengah jalan dan kepercayaanmu mulai terkikis karena kebohongan-kebohongan sebelumnya. Wajar kalau itu bikin kamu takut untuk melangkah lebih jauh.
Dari yang kamu ceritakan, sejak awal kamu sudah punya gambaran dan harapan soal kehidupan setelah menikah: ingin hidup mandiri, punya privasi rumah tangga sendiri, dan tidak terlalu ikut campur dengan orang tua masing-masing. Itu bukan permintaan yang salah kok, justru cukup wajar untuk pasangan yang ingin belajar membangun rumah tangga sendiri. Tapi di sisi lain, pasanganmu ternyata punya keinginan berbeda dan lebih memilih tetap dekat dengan orang tuanya. Ditambah lagi, setiap ada benturan antara keinginanmu dan ibunya, kamu merasa dia lebih cenderung mengikuti ibunya.
Kalo dipahami lebih dalam, sebenarnya masalah utamanya bukan tentang “anak mama” atau bukan, tapi soal kesiapan membangun rumah tangga dan bagaimana seseorang menetapkan prioritas setelah menikah. Menyayangi dan berbakti pada orang tua itu baik, tapi setelah menikah nantinya pasangan juga perlu belajar menyeimbangkan antara kebutuhan orang tua dan pasangan hidupnya. Dari ceritamu, kamu khawatir nantinya suaramu tidak benar-benar didengar dan kamu harus terus mengalah. Apalagi kamu sendiri sudah mulai sulit percaya karena merasa pernah dibohongi. Itu perasaan yang valid kak…
Sebelum memutuskan lanjut atau tidak, mungkin ada beberapa hal yang perlu benar-benar dibicarakan secara serius dan jelas:
- Apakah dia memang siap membangun rumah tangga sendiri, atau masih sangat bergantung pada keputusan orang tuanya?
- Kalau nanti terjadi konflik antara kamu dan keluarganya, seperti apa bentuk “jalan tengah” yang dia maksud?
- Apakah kalian benar-benar punya visi pernikahan yang sama, atau selama ini hanya berharap salah satu akan mengalah?
Karena pernikahan bukan cuma soal saling sayang, tapi juga soal kesiapan, komunikasi, dan kecocokan nilai hidup. Untuk sekarang, jangan terburu-buru masuk ke tahap lamaran kalau hal sebesar ini saja belum selesai dibicarakan. Tidak apa-apa memberi waktu untuk melihat apakah dia benar-benar mau mendengarkan dan mencari solusi bersama, atau justru berharap kamu yang terus menyesuaikan diri.
Dan soal pertanyaan “lanjut atau udahan?”, jawabannya sebenarnya ada di dirimu sendiri kak. Coba tanyakan dengan jujur:
- Kalau kondisi seperti ini terus berlanjut setelah menikah, apakah kamu sanggup?
- Saat bersama dia, kamu lebih sering merasa tenang atau justru cemas?
- Kamu bertahan karena yakin hubungan ini sehat, atau karena takut kehilangan dan sudah terlalu lama bersama?
Kamu masih sangat muda, kak. Tidak ada yang salah dengan mempertimbangkan semuanya matang-matang sebelum menikah. Justru lebih baik menghadapi kenyataan sekarang daripada menyesal setelah menikah nanti.
Sebagai penutup, keinginan kamu untuk punya rumah tangga yang mandiri bukan hal egois. Kamu hanya ingin punya ruang yang sehat untuk membangun hubungan dengan pasanganmu. Dan kamu juga berhak berada dengan seseorang yang mau mendengarkan, menghargai kesepakatan bersama, dan tidak membuatmu terus merasa ragu.
Pelan-pelan ya, kak. Tidak perlu memaksa diri mengambil keputusan hari ini. Yang penting sekarang adalah melihat hubungan ini dengan lebih jernih, bukan hanya dengan rasa sayang, tapi juga dengan pertimbangan tentang masa depan dan kesehatan emosimu sendiri. Kamu tidak sendirian..
-Tim Tanya Konselor