Teman Posesif

Tanya KonselorTeman Posesif
Choco asked 11 months ago . Client detail : , y.o

Halo! Saya adalah seorang mahasiswi berumur 19 tahun. Saya selain berkuliah, saya juga bekerja. Jadi saya mempunyai teman kerja yang sudah saya kenal selama 8 bulan. Kami berteman dengan sangat baik dan dekat pada awalnya. Hingga saya merasakan ketidaknyamanan saat berteman dengan nya. Dia sangat perhatian dan sering sekali membelikan saya sesuatu. Tetapi, dia seperti menuntut suatu imbalan, bukan lewat barang tetapi lewat perlakuan. Akhir-akhir ini kami sering sekali bertengkar karena masalah sepeleh, dia gampang sekali ngambek dan marah. Dia menuntut saya untuk menjadi apa yang dia inginkan. Saya harus menghubungi nya 7×24 jam, saya tidak memiliki privacy dan kebebasan, jika saya tidak menuruti keinginan dia, dia akan marah kepada saya. Pada awalnya, saya berusaha untuk berubah dan mengikuti keinginan dia, tetapi dia bilang bahwa saya tidak berubah dan terus terusan melakukan hal yang sama, dia mengatakan saya egois dan keras kepala  Padahal, saya sudah melakukan nya. Tapi seperti nya dia tidak puas. Dia menghubungi sahabat saya yang dia baru temui satu kali, dan dia mengatakan saya sering kali meminta bantuan dia, tetapi saya memperlakukan dia dengan tidak layak. Dia juga mengatakan bahwa saya sering kali meminta nya untuk menjemput saya, padahal dia yang selalu menawarkan diri untuk menjemput saya. Dia juga pernah mengatakan kepada teman saya saat kami sedang bertengkar bahwa “kamu bisa tanya dia, sudah berapa banyak barang yang saya berikan kepadanya”. Saya tidak masalah jika dia tidak menjelek”an saya di belakang. Saya kecewa, marah dan sedih karena tindakan nya ini. Padahal, saya berteman dengan dia dengan ikhlas dan sepenuh hati. Bahkan saking kami sudah sangat dekat, banyak orang-orang mengira kami ‘lesbi’, padahal tidak. Saya mengerti, mengapa dia sangat posesif dan berlebihan. Dia membutuhkan perhatian karena dia memiliki keluarga yang berantakan. Masalah keluarga yang dia alami sudah sangat-sangat parah, tetapi tidak ada jalan keluar. Saya bingung, apakah saya harus menjauhi nya atau tidak? Saya kasihan kepadanya tetapi saya juga kecewa dan sakit hati karena kata-kata nya itu.

1 Answers
faradilah Hanum Staff answered 2 weeks ago

Halo choco, maaf baru balas curhatan kamu ya,
Saya mencoba untuk memahami kekhawatiran kamu dan pemahaman kamu pada teman kamu. Namun, jika kenyataannya sudah demikian, dan sepertinya sikapnya tidak bisa diperbaiki, maka saya akan lebih memilih untuk tidak melanjutkan pertemanan dengan orang yang demikian. Sulit untuk bisa percaya pada orang yang sudah menghianati kita apalagi kita sudah menganggap dia sebagai teman. Kita tidak tahu, apa yang bisa dia lakukan kedepannya pada kita jika saat ini saja dia sudah berani banyak mengatakan kebohongan tentangmu pada temanmu yang lain. Selain itu, teman yang baik bukanlah teman yang memaksakan kehendaknya, apalagi untuk menghubungi 7×24 jam dan menuntut ini itu. Saya pikir temanmu butuh bantuan yang lebih professional.
 
Kamu juga sebaiknya memberitahu temanmu tentang sikapnya yang membuatmu tidak nyaman dan merugikanmu. Katakan dengan sejujurnya bahwa jika sikapnya tidak diperbaiki maka dampak jangka panjangnya akan membuat lingkungan di manapun dia berada menjadi negatif. Dia juga akan kesulitan dalam menjalin hubungan interpersonal, baik dalam pertemanan maupun pekerjaan. Tekankan bahwa dia harus berubah lebih baik, sehingga dia tidak akan ditinggalkan oleh siapapun. Meskipun dia resisten tidak berubah, paling tidak tugasmu sebagai teman sudah dipenuhi dengan mengingatkannya.
 
Saya memhami jika keluarga yang berantakan dapat mempengaruhi kondisi psikis seseorang, namun bukan berarti itu bisa dijadikan sebagai alasan untuk menghancurkan hidup orang lain atau mengatakan kebohongan pada orang – orang hanya untuk diperhatikan. Jika boleh sara, mungkin kamu sendiri tidak bisa mengatasinya. Temanmu itu, memerlukan bantuan psikolog atau psikiater untuk bisa mengubah kebiasaan buruknya. Jika kamu terus bertahan sendiri, maka yang ada kamu yang akan terbebani secara spikis.
 
-tim tanya konselor-