mungkin-aku-gila-1

Tanya KonselorCategory: Remajamungkin-aku-gila-1
Bee asked 4 weeks ago . Client detail : female, 13-16 y.o

Jadi, sejak kecil, aku selalu dididik keras sama orangtuaku. Ditampar, digebukin, dijotos, dipukul pakai sapu, dipukul pakai sabuk, dibentak, aku udah pernah alamin semua. Alasannya sebenernya nggak pernah parah-parah banget, tapi efeknya yang parah. Salah satunya adalah kayak waktu aku umur 5 tahun, dan waktu itu ada temenku yang punya terompet taun baru yang banyak dijual murah dipasar-pasar. Aku nggak punya tapi aku suka, aku rebutan sama temenku itu dan aku ditarik pulang sama Mama. Sampai dirumah aku diomelin, dan Papa nanya kenapa aku nangis. Lalu dijawablah sama mamaku kalau aku pengen terompet taun baru. Tapi papaku seolah kayak nggak peduli gitu dan aku lanjut nangis sampe agak malem. Terus, mungkin karena capek dengerin aku nangis, Papa nampar aku. Keras, sakit, dan aku pasti makin kenceng nangisnya. Tapi aku diancem bakal dibuang ato ditaro di panti asuhan kalo aku masih nangis, jadinya aku nangisnya nahan gitu. Pikirku waktu itu, mungkin itu mahal kali, ya, yaudah nggak usah pake terompet gapapa. Lalu makin gede, aku jadi tau kalo harga terompet kayak begituan tuh murah. Jadi apa salahnya waktu itu aku dibeliin dan bukannya ditampar? Sebenernya banyak cerita aku dipukul gara-gara salah sepele. Aku ditampar waktu sekitar umur tujuh tahun gara-gara pulang jam sembilan malem, habis dari rumah temen padahal aku bareng Mama. Waktu itu aku sama Mama dimarahin, aku ditampar dan Mama cuma diomelin. Dipikiranku waktu itu, \”Aku yang salah, kok.\” Dan setiap kali dipukul atau dimarahin, itu yang kupikirin. Setelah itu, Mama hamil adekku. Aku makin ditelantarkan. Aku main sepeda sambil hujan-hujanan, aku main sepeda dan berakhir ketabrak motor, aku udah kasih tahu Mama tapi kayaknya Mama biasa aja. Mama sama Papa menghabiskan banyak uang untuk membahagiakan adikku, tapi nggak buat aku. Papa makin keliatan pilih kasihnya, sementara Mama sebagian besar ngasih perhatian ke adikku tapi nggak apa selama aku juga dikasih perhatian sama Mama. Aku selalu dituntut untuk jadi anak yang rajin, pintar, dan bisa dibanggakan. Bagi Papa, anak itu ibarat aset. Jadi kalau nggak menguntungkan, bisa aja Papa ngebuang anaknya yaitu aku. Aku disalahkan sama kesalahan yang nggak kubuat, dan sejak itu aku jadi nggak merasa bahagia. Tapi aku terlanjur dicap sebagai anak yang ceria, jadi aku pura-pura ceria supaya nggak ada yang curiga. Ketawa yang paling kenceng, senyum yang paling lebar, dan guyonan yang selalu muncul dari mulutku, sebenarnya itu semua cuma pura-pura. Bahkan marah aja, aku nggak bisa rasain. Aku cuma bisa rasain rasa kecewa, sedih, dan rasa nggak berguna. Mama sama Papa selalu bangga sama adik-adikku karena mereka pinter, sedangkan mereka selalu keras sama aku. Katanya biar itu jadi motivasi supaya aku ada niatan jadi pinter. Padahal menurutku, nggak semua anak pinter dalam hal yang sama. Aku juga udah jawab begitu ke mereka, tapi mereka tetep aja pengen anak yang punya ranking kelas. Selain itu, teman-temanku disekolah berubah. Sahabatku yang paling deket lah, sekarang malah berusaha saingan sama aku, nggak pengen kalah dari aku, dan tiru-tiru semua kebiasaanku. Yang satu lagi, dia malah nggak tulus temenan sama aku. Cuma supaya banyak temen dan dia nggak mau kalah juga dalam hal apapun dari aku. Perilaku temen-temenku berubah, padahal aku nggak berubah. Perilaku orangtuaku nggak berubah, padahal aku berubah. Aku jelek, fisikku memang buruk. Apalagi aku pendek dan penyakitan. Iya, aku asma dan alergi debu, dingin, segala macam. Aku juga gampang sakit. Bahkan guruku ada yang bilang aku penyakitan, hahaha. Entah kenapa kata-kata kayak gitu udah nggak bikin aku sakit hati. Untuk sekarang aku cuma mau curhat itu aja. Aku bakal lanjut untuk part 2 nya, karena udah lama banget aku disini sejak aku tadi pengen menghilang di laut.